Ancam Mutasi Pemilik Lahan

Pemda Morotai Diduga Serobot Lahan Warga

Pemilik lahan pelang jalan.

MOROTAI-PM.com, Pemerintah daerah (Pemda) Pulau Morotai diduga kuat melakukan penyerobotan tanah milik warga yang tinggal di Daruba Kecamatan Morotai Selatan (Morsel).

Dugaan penyerobotan lahan yang terletak di kompleks American Vellage, Kilo Tiga, Desa Daruba itu dapat terlihat pembangunan jalan masuk ke proyek perumahan, tidak diketahui bahkan tanpa seizin juga dari pemilik lahan.

Selain itu, pemilik lahan yang berstatus PNS itu dikabarkan diancam akan dimutasikan ke Kecamatan Morja oleh Kabag Pemerintahan, Darmin Djaguna jika tidak menjual lahannya ke Pemda Morotai.

Berdasarkan amatan media ini, pada Senin (9/4/2022) sekitar pukul 14.00 WIT, di mana sejumlah keluarga pemilik lahan memalang jalan masuk dengan menggunakan bodi perahu maupun pohon yang ditebang di lokasi lahan.

Ali Gafur, pemilik lahan mengaku bahwa pihaknya sangat dirugikan dengan adanya tindakan Pemda Morotai khususnya bagian pemerintahan. Sebab, jalan masuk yang dibuat itu tanpa sepengetahuan pemilik lahan.

Selain itu, terkait pembebasan lahan pun tidak jelas lantaran empat pejabat di Pemda Morotai menetapkan harga yang tidak sama.

"Sejauh ini koordinasi sudah kami lakukan masih jaman ibu Sofia (mantan Kabag Pemerintahan), tidak ada kesepakatan, Faisal Kudo juga tidak ada kesepakatan, masa ibu Sofia hanya bayar 7 ribu permeter, 15 ribu permeter. Masa Faisal Kudo dia bilang 20 ribu permeter. Masa Darmin Djaguna dia bilang 33 ribu permeter, kemarin ketemu dengan asisten I, dia bilang 25 permeter. Jadi sudah empat harga yang berbeda," ungkapnya.

"Kalau pembukaan jalan tidak pernah koordinasi ke saya. Pernah kontraktor koordinasi ke saya bahwa pihaknya membersihkan lahan, tapi untuk bangun jalan saya tidak pernah tahu karena memang tidak ada pemberitahuan, dan jalan itu masuk di saya pe tanah. Menurut pengembang katanya dari bagia pemerintahan sampaikan bahwa tanah itu sudah dibebaskan padahal belum," sambung Ali dengan kesal.

Sementara, Monde, istri dari Ali Gafur, mengungkapkan terkait lahan yang dipalang tersebut, dirinya mendapat ancaman dari Kabag Pemerintahan, Darmin Djaguna, bahwa jika tidak dibebaskan maka dirinya bakal dimutasi ke Sopi, Kecamatan Morja.

"Waktu Pak Darmin masih camat Morsel juga bilang yang sama, ketika jadi Kabag Pemerintahan juga bilang, kalau tidak jual lahan ke mereka, kami dipindahkan ke Sopi. Lalu saya bilang siap kalau dipindahkan ke Sopi," ungkapnya.

"Kalau harga sesuai, kami mau. Tapi kalau tidak sesuai, maka kami tidak mau. Tapi ada bahasa banyak sekali, dia (Darmin) bilang bayar 25 ribu permeter, padahal yang tidak ada sertifikat dia bayar 120 ribu permeter. Saya tahu karena tugas di kantor camat. Saya sudah cape. Lahan saya sudah tidak mau jual. Pak Darmin sudah berapa kali ketemu, kalau harga 25 ribu kami tidak mau, sementara saya jual lahan yang di depan itu perkapling kapling itu Rp150 juta itu 15X25,"cetusnya.

Pihaknya tetap melakukan pemalangan hingga masalah lahan bisa diselesaikan antara kedua belah pihak.

Sementara Kabag Pemerintahan, Darmin Djaguna ketika dikonfirmasi terkait masalah pemalangan dan ancaman mutasi melalui telpon maupun pesan singkat, hingga berita ini diturunkan belum ada respon.

Komentar

Loading...