TERNATE-pm.com, Wakil Wali Kota Ternate, Nasri Abubakar bertindak sebagai inspektur upacara peringatan hari lahir (harla) Pancasila 1 Juni 19945.

Nasri membacakan pidato Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasil (BPIP) pada upacara yang berlangsung di kantor Wali Kota Ternate, Senin (2/5/2025).

Peringatan harla Pancasila merupakan momentum yang sangat penting dalam sejarah Bangsa Indonesia.

Momentum 1 Juni tidak hanya mengenang rumusan dasar negara, tetapi juga meneguhkan kembali komitmen terhadap nilai-nilai luhur yang menjadi pondasi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pancasila bukan sekadar dokumen historis atau teks normatif yang tertulis dalam pembukaan UUD 1945. Ini merupakan nyawa bangsa, pedoman hidup bersama, serta bintang penuntun dalam mewujudkan cita-cita Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

“Dalam semangat memperkokoh Ideologi Pancasila, izinkan saya mengajak kita semua merenungkan kembali bahwa Pancasila adalah rumah besar bagi keberagaman Indonesia,” katanya.

Pancasila mempersatukan lebih dan 270 (dua ratus tujuh puluh) juta jiwa dengan latar belakang suku, agama, ras. budaya dan bahasa yang berbeda.

Dari Pancasila perlu dimaknai bahwa kebinekaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk bersatu.

“Dari sila pertama hingga sila kelima, terkandung prinsip-prinsip yang menuntun kita membangun bangsa dengan semangat gotong-royong, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap martabat manusia,” terangnya.

Lebih lanjut Nasri menyampaikan, dalam konteks pembangunan nasional saat ini, pemerintah telah menciptakan asta cita sebagai delapan agenda prioritas menuju indonesia emas 2045.

Salah satu yang paling fundamental dalam asta cita tersebut yakni memperkokoh Ideologi Pancasila, demokrasi dan hak asasi manusia.

“Mengapa ini menjadi prioritas? karena kita menyadari bahwa kemajuan tanpa arah ideologis akan mudah goyah. Kemajuan ekonomi tanpa pondasi nilai-nilai Pancasila bisa melahirkan ketimpangan. Kemajuan teknologi tanpa bimbingan moral Pancasila bisa menjerumuskan bangsa pada dehumanisasi,” bebernya.

Ia menyebut, memperkokoh Ideologi Pancasila berarti menegaskan kembali bahwa pembangunan bangsa harus selalu berakar pada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial.

Pada lingkungan pemerintahan dan birokrasi, nilai-nilai Pancasila harus hadir dalam bentuk pelayanan publik yang berkeadilan, transparan dan berpihak pada rakyat.

Setiap kebijakan dan program harus mencerminkan semangat kemanusiaan dan keadilan sosial, bukan kepentingan kelompok atau golongan.

“Dalam bidang ekonomi, kita perlu memastikan bahwa pembangunan tidak hanya dinikamati oleh segelintir orang, tetapi menjadi berkah bagi seluruh rakyat. keadilan sosial, sebagaimana termaktub dalam sila kelima, harus menjadi orientasi utama,” tegasnya.

Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), ekonomi kerakyatan dan koperasi harus terus diberdayakan agar tidak ada warga yang tertinggal dalam kemajuan daerah.

“Mari kita jadikan hari lahir Pancasila ini bukan sekadar seremonial, tetapi momen untuk memperkuat komitmen kita terhadap nilai-nilai leluhur bangsa,” serunya.