TERNATE-PM.com, Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Ternate berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan dan Palamang Merah Internasional dalam rangka membicarakan terkait micro planning imunisasi polio.

Secara nasional, ada empat provinsi termasuk Maluku Utara yang melaksanakan program polio. Di Maluku Utara ada dua kabupaten/kota, yakni Ternate dan Halmahera Barat menjadi lokasi kegiatan.

Koordinator Program Pulio, PMI Kota Ternate, Jusran Kibas mengatakan, di Ternate ada empat kelurahan yang menjadi fokus program imunisasi polio. Empat kelurahan tersebut adalah Tanah Raja, Tanah Tinggi, Taduma dan Togafo. Kata dia, pilihan lokasi dilihat dari presentasi imunisasi yang rendah.

“Kerena pasca Covid-19, tenaga medis fokus pada vaksinasi. Akhirnya anak-anak yang harus dapat imunisasi tidak bisa karena ditutup,” ujarnya kepada media ini, Kamis (3/3/2022).

Micro planning yang berlangsung satu hari, atau tepat pada Kamis (3/3/2022) di Caffe Bukit Bintang itu melibatkan Dinas Kesehatan Kota Ternate, Puskesmas yang masuk dalam wilayah kerja imunisasi dan Unicef Maluku Utara-Maluku.

Peran PMI sangat penting karena sebagai promosi kesehatan untuk menyampaikan ke masyarakat bahwa posyandu itu penting.

“Selain itu, mendorong presentasi cakupan imunisasi di Kota Ternate. Dibicarakan micro planning, merencanakan jadwal sweeping ke rumah warga, lokasi posyandu dan kendala di lapangan,” ujarnya.

Dikatakan Jusran, targetnya selesai kegiatan langsung dilakukan sweeping.

“Ada kendala ibu-ibu di kelurahan yang tidak merespon baik terhadap posyandu karena belum tahu manfaat polio. Kita mengudakasi ke masyarakat, fokusnya pada imunisasi polio,” ujarnya.

Kasi Surveilans dan Imunisasi Dinkes Ternate, Ririt Mindiarti mengatakan kegiatan micro planing ini bermaksud menaikan cakupan imunisasi pulio. Maka, peran PMI sangat penting karena membantu mobilisasi, edukasi, sweeping di rumah warga.

“Kegiatan ini membicarakan bagaiman skedul imuniasi pulio di empat kelurahan yang menjadi fokus posyandu. Apa yang PMI butuhkan dari kami, mereka membutuhkan data dari kami agar sesuai dengan sasaran dan waktu pelaksanaan sosialisasi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pulio merupakan salah satu penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi yaitu vaksin pulio.

Meski di Maluku Utara sejauh ini tidak ada lagi kasus pulio, namun tetap dilakukan imunisasi sebagai langkah pencegahan.

“Di kita (Maluku Utara) tidak ada kasus. Yang ada di Papua tahun 2020 kemarin,” ujarnya.

Secara geografis, Maluku Utara cukup dekat dengan Papua, maka perlu langkah kesiapsiagaan untuk pencegahan.

Dikatakannya, mengatasi pulio ada dua sistem yakni tetes dan suntik.

“Kalau suntik mematikan virusnya. Tapi tetes, itu dilemahkan. Kalau vaksinnya diteteskan berarti virusnya masih hidup,” ujarnya.

“Ada surveilans AFP mencari suspek pulio. Cirinya apa? jadi kalau kita dapati anak usia di bawah 15 tahun lumpuh layu itu dilaporkan. Untuk membuktikan anak itu pulio atau bukan, dilakukan pengambilan sampel.  Sampel itu feses, kemudian diuji apakah anak tersebut mengidap pulio atau tidak,” sambungya.

Ia menambahkan, surveilans AFP merupakan pengamatan kumpulan gejala yang mengarah ke polio. Di mana anak-anak dengan guzi buruk juga masuk galam gejala polio.

“Jadi bisa daimbil samplenya untuk diuji. Dan anak tersebut bisa mendaptkan vaksin polio untuk pencegahan,” ujarnya.