Selamat sukses milad Muhammadiyah 113 tahun, semoga komitmen dan gerakan memajukan pendidikan, ekonomi, kesehatan dan sosial tak berhenti dan terus berkembang memajukan ummat dan bangsa. Kini Muhamamdiyah telah memiliki 17.742 lembaga pendidikan, 172 perguruan tinggi, 455 rumah sakit, dan klinik kesehatan, 2.300 amal usaha sosial (panti asuhan dan panti jompo), bahkan separuh dasawarsa, Muhamamdiyah telah terus meramba dunia. Kipranya tidak main-main. Muhammadiyah memiliki sekitar 250 lembaga pendidikan Muhammdiyah di luar negeri, telah memiliki 33 pimpinan cabang istimewa Muhammadiyah (PCIM) di seluruh dunia, dan telah diterima legaliternya sebagai organisasi resmi di beberapa negara, seperti Australia, Jerman, Jepang, Amerika Serikat dan lainya. Kenapa Muhammadiyah begitu cepat berkembang meramba dunia dan tingkat keterimaan sosialnya begitu tinggi?. Esay ini mencoba mengkonstruksi Muhammadiyah dengan menggunakan lensa analisis teori Strukturasi Anthony Giddens secara umum, guna menemukan postulat keberhasilan struktur yang hidup dalam proses timbal balik antar struktur sosial (aturan,norma dan sistem sosial Muhamamdiyah) dan ”agen”-tindakan manusia- (warga Muhammadiyah).
Disadari, kemajuan Muhammadiyah dan kompleksitas gerakan ini memerlukan pendekatan teoritis yang mampu mengkonstruksi relasi antara struktur yang relatif stabil dan tindakan agen yang terus berubah. Anthony Giddens dengan teori Strukturasinya mencoba menawarkan gagasan konseptual untuk menganalisis keterhubungan struktur dan agen (Orlikowski, 2020), bahwa struktur sosial dan agen sosial membentuk resiproka-saling mempengaruhi secara bebas- antara struktur kelembagaan organisasi Muhamamdiyah dengan agen sosial Muhammadiyah. Strukturasi memandang bahwa struktur sosial itu tidak bersifat determinis atau upaya membatasi, melainkan hadir melalui reproduksi sosial secara strukturalis dan melahirkan transformasi tindakan agen sosial secara berulang dalam ruang dan waktu (Stones, 2019).
Anthony Giddens menjelaskan, struktur sosial berhubungan dengan agen (tindakan manusia) di mana keduanya saling membentuk dan memengaruhi. Struktur bekerja untuk memengaruhi bagaimana agen bertindak dan agen bisa mungkin memperkuat, mengubah/mematikan atau memproduksi struktur. Persyarikatan tidak hanya dibentuk oleh struktur, tetapi bisa mungkin pula oleh tindakan agen. Logika teori strukturasi tersebut mencoba memahami organisasi keagamaan modern tersebut bergerak begitu dinamis antara struktur kelembagaan dan praktik sosial warga Muhammadiyah. Betapa tidak Muhammadiyah sebagai organisasi Islam terbesar telah berkembang signifikan dalam pendidikan, kesehatan, dan sosial sebagaimana dijelaskan di atas. Dapat diduga bahwa keberlanjutan gerakan Muhammadiyah saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh aspek gerakan puritanisme Muhammadiyah, aturan normatif, dan dokumen organisatoris tetapi juga dipengaruhi oleh praktik agen- agennya di berbagai level, mulai dari Pimpinan Pusat sampai pimpinan Ranting Muhammadiyah dan agresivitas warga Muhammadiyah secara personal dan kolektif dalam membentuk tindakan sosial sehari-hari.
Era saat ini, organisasi dituntut tidak hanya mempertahankan struktur formal, tetapi juga mampu merawat tingkat adaptabilitas agar terus relevan dengan dinamika perkembangan masyarakat. Teori strukturasi memandang, perubahan sosial senantiasa tetap terjadi pada level struktural dan juga peran agen yang mampu memaknai dan mempraktikkan struktur secara kreatif dalam kehidupan nyata (Diddens, 2021). Dalam konteks organisasi Muhammadiyah, warga dan para pimpinan Muhammadiyah memiliki kemampuan daya kreasi dan inovasi sekaligus produktif dalam menghadapi perubahan, sehingga identitas struktur dan praksis gerakan Muhammadiyah tidak mengalami involusi dan statis. Hasil penelitian di tegaskan, organisasi keagamaan mampu bertahan apabila warganya memiliki kesadaran dan kemampuan mengintegrasikan antara stabilitas norma dan kreativitas tindakan agen (Smith & Woodhead, 2018; Turner, 2020). Dengan demikian, gambaran ini ada dalam strukturasi Muhammadiyah bahwa gerakan Muhammadiyah sebagai organisasi sosial-keagamaan terus membangun dirinya melalui dialektika antara “kaidah organisasi” dan “praktek dalam kehidupan”, antara“ yang diwariskan” dan “yang dihadirkan kembali” untuk hanya menunjukkan bahwa Muhammadiyah sejak berdirinya telah menunjukkan strukturasi yang kuat pada gerakan Tajdid (pembaharuan) melalui struktur kelembagaan dan tindakan sosial warga Muhammadiyah.
Tajdid pada prinsipnya sebagai proses reflektif agen (warga Muhammadiyah) terhadap struktur normatifnya, kemudian memproduksi kembali pemahaman yang relevan dengan konteks zaman. Artinya kemajuan pemahaman Muhammadiyah dalam teori strukturasi bisa dibaca sebagai tindakan agen yang kreatif dan refleksif dalam bentuk dualitas struktur, yaitu struktur berubah karena agen dan agen dibentuk oleh struktur (Giddens, 2021). Hal ini substansinya telah terkonstruksi dalam sejarah dan perkembangan Muhammadiyah bahwa pembaharuan itu tampak dalam gerakan Muhammadiyah yang terus memodernisasi sistem pendidikan modern, memperluas jaringan layanan kesehatan, sosial, ekonomi, lingkungan dan menguatkan filantropi Muhammadiyah. Penelitian mutakhir ditemukan bahwa organisasi keagamaan yang mampu mengombinasikan antara struktur normatif dengan inovasi agen secara berkelanjutan akan lebih adaptif terhadap perubahan global (Wielander & Woodman, 2021; Effert, 2022).
Kombinasi tersebut dapat memeriksa bahwa praktik sosial Muhammadiyah pada bidang pendidikan sebagai arena reproduksi struktur yang paling signifikan. Ratusan perguruan tinggi, ribuan sekolah, dan lembaga sosial lainnya, Muhammadiyah memainkan peran penting sebagai institusional agent dalam membentuk pola pikir, nilai, dan orientasi tindakan warga dan masyarakat luas (Fajarini, 2020). Institusionalisasi ini tidak hanya menjadi sebagai tempat pengajaran formal, tetapi juga mengkonstruksi nilai gerakan persyarikatan melalui kebiasaan, tata kelola struktur, serta interaksi sehari-hari. Giddens menjelaskan, institusi adalah hasil sedimentasi tindakan sosial yang terulang, sehingga perubahan institusi sangat bergantung pada agen yang mempraktikkan aturan yang ada (Giddens, 2021). Untuk itu, konseptualisasi praktik pendidikan Muhammadiyah dapat dipahami sebagai proses strukturasi itu berjalan dengan baik dan berlangsung terus-menerus, di mana dosen, guru, siswa, pimpinan, dan warga Muhammadiyah bersama-sama mereproduksi dan mentransformasi nilai keislaman dan kemodernan telah membentuk gerakan Islam berkemajuan ala Muhammadiyah. Penelitian sosial kontemporer menegaskan, stabilitas lembaga sangat bergantung pada sejauh mana agen internal mampu mereproduksi nilai organisasi dalam tindakan kesehariannya (Nouwen & Zietsma, 2021; Jones, 2020).
Bukan hanya pada aspek tajdid, dan pendidikan tetapi juga pada aspek sosial Muhammadiyah. Bahwa atika strukturasi juga terlihat dalam artikulasi gerakan sosial dan filantropi Muhammadiyah. Sebagai salah satu aktor filantropi terbesar di Indonesia, Muhammadiyah memainkan peran penting dalam mitigasi bencana, advokasi hukum dan kesehatan, kemiskinan, dan diplomasi kemanusiaan global. Aksi-aksi ini menunjukkan bahwa struktur nilai dan prinsip kemanusiaan Muhammadiyah (such as fastabiqul khairat, al-Ma’un) direproduksi secara nyata oleh agen melalui tindakan kolektif (Alfitri & Hambali, 2021). Dalam teori strukturasi Anthony Giddens, tindakan filantropi bukan hanya implementasi dari aturan normatif, tetapi juga proses kreatif agen dalam menyesuaikan struktur tersebut dengan kebutuhan sosial (Piliang, 2019; Charles, 2022). Untuk itu, Muhammadiyah tidak hanya mempraktikkan nilai kemanusiaan, tetapi juga membangun struktur baru melalui aksi sosial yang berkelanjutan. Adalah bukti bahwa struktur organisasi Muhammadiyah senantiasa diperkuat melalui praktek sosial yang berulang dan terus menerus, sehingga struktur dan agen saling memperkuat dalam proses dialektis yang tidak pernah berhenti. Proses dialektika itu berbasis pada hubungan yang saling memberikan kontribusi baik pada level struktur Muhammadiyah maupun pada level praksis gerakannya, sebagaimana dalam hasil analisis Atlasti sebagai berikut:

Gambar tersebut memberikan penjelasan bahwa mengkonstruksi Muhammadiyah dalam teori strukturasi dapat diamati dalam tiga pola yang satu sama lain memberikan pengaruh yang signifikan. Pola pertama terdapat pada kotak warna biru dimana struktur sosial (norma, aturan, nilai, status, lembaga dan peranya) dapat mengarahkan agen sosial sehingga struktur sosial bisa berjalan dengan baik. Dengan kata lain, segala ketentuan dalam organisasi Muhammadiyah menjadi acuan bagi warga Muhammadiyah selama ini dalam bekerja, menetapkan tujuan, mengambil keputusan dan memahami batas-batas nilai yang disepakati bersama dan terjadi perubahan ketika warga melakukan reflektif. Pola tersebut, terwujud dalam sistem kepemimpinan, hirarki organisasi dan pedoman gerakan dalam menanamkan Idiologi Muhammadiyah secara terus menerus. Kesadaran kolektif tentang hidup hidupkanlah Muhammadiyah dan jangan menjadi hidup di dalam Muhammadiyah, adalah bukti bahwa etika teori Anthony Giddens tersebut tetap hidup dalam struktur kelembagaan Muhammadiyah dan warga, bersama-sama membentuk pola biner yang saling memberi arti dengan slogan gerakan Muhammadiyah “ fastabiqul khairat-berlamba-lomba dalam kebaikan’. Jadi hubungan antara struktur sosial Muhamamdiyah dan agen sosialnya dibangun atas dasar kesadaran tauhid bahwa gerakan tajdid menjadi motor penggerak yang menciptakan sirkulasi sosial Muhammadiyah yang baik dan kuat.
Pola kedua, terdapat pada kotak warna orange bahwa organisasi Muhammadiyah, warga Muhammadiyah dan level kepemimpinan di Muhammadiyah telah berjalan dengan baik, akan tetapi khusus kota arange (warga Muhammadiyah) bisa menjalankan perannya sebagai agen sosial dalam bidang pendidikan, sosial ekonomi, tajdid dan filantropi dapat dipengaruhi oleh sistem kepemimpinan dan tata kelola organisasi Muhammadiyah. Pola ketiga, terdapat pada kotak warna abu-abu, di mana pendidikan, sosial ekonomi, tajdid dan filantropi memiliki struktur sosial dan agen tersendiri, namun secara mekanik telah membentuk pola pemahaman yang sama bahwa amal saleh harus diperjuangkan melalui sistem kepemimpinan yang kuat, dan tata kelola struktur sosial Muhammadiyah. Itulah sebabnya dalam Muhammadiyah tidak ada ada tokoh sentral tetapi yang ditekankan dalam struktur kerja Muhammadiyah adalah kolektif kolegial sebagaimana dalam teori strukturasi Anthony Giddens bahwa dalam struktur sosial yang diharapkan adalah fungsi kolektif-kolegial karena hanya dengan fungsi tersebut struktur sosial dan agen sosial membentuk struktur baru yang lebih adaptif terhadap setiap dinamika dan perubahan sosial.
Wallahu’alam bissawab

Tinggalkan Balasan