TOBELO-pm.com, Kecurigaan warga terhadap adanya oknum penculikan anak menggegerkan warga Desa WKO, Kecamatan Tobelo Tengah akhirnya diluruskan Polres Halmahera Utara.
Di mana faktanya kecurigaan warga itu tidak benar, justru pelaku berinisial AS alias Ambo (55) yang dicurigai itu, hanya Orang dengan Gangguan Jiwa (ODJG).
Kapolres Halut, AKBP. Moh. Zulfikar Iskandar, mengatakan, terungkapnya AS bukan pelaku penculikan anak itu, setelah dari hasil penyelidikan terhadap Ambo, terdapat keterangannya berubah-ubah.
Bahkan, mulai dari tujuannya ke Tobelo lantaran tersesat, mencari uang dengan memabwa bus ke Bitung hingga ingin menyusul adiknya di Gorontalo.
“Keterangan terduga ketika diintrogasi penjelasannya berubah-ubah dari tujuan menyusul adik ke Gorontalo, mau membawa bus ke Bitung, tersesat hingga ingin mengubah uang mainan menjadi asli di Kota Manado,” ujar Kapolres, Rabu (1/2/2023).
Lanjut mantan Kapolres Halteng ini, terduga menyebut dirinya seorang sopir dan berdomisili di Dusun Bakkee, Desa Tanasitolo, Kabupaten Tanasitolo. Sementara dari pengembangan pemeriksaan, yang bersangkutan menjelaskan bahwa berangkat dari Sengkang Kabupaten Wajo menuju ke Manado sejak tanggal 22 Januari dan melanjutkan perjalanan dengan KM Barcelona dan tiba di Ternate pada tanggal 29 Januari 2023.
“Lalu AS melanjutkan perjalanannya ke Tobelo menggunakan kapal Feri dan menumpangi mobil lintas dan turun di pasar Wosia Kecamatan Tobelo Tengah dengan tujuan berjualan untuk mendapatkan uang agar menyusul saudaranya ke Bitung,”ujarnya.
Di pasar Wosia, Kecamatan Tobteng, AS menurutnya, sempat dagangkan sabun soklin kepada pedagang di pasar, lalu terduga melihat seorang pedagang yang leher sakit seperti gondok dan merasa kasihan sehingga memberikan uang senilai Rp150 ribu yang ternyata uang mainan.
“Jadi puncaknya sampai dicurigai terduga penculikan anak, karena pedagang tersebut merasa ditipu dengan uang tersebut, sehingga warga di sekitar yang mengetahui kejadian itu langsung hakimi dan akhirnya menyebarkan isu bahwa AS adalah pelaku penculikan anak, namun ternyata itu tidak benar,”ungkap Kapolres Halut.
Penyidik telah periksa beberapa saksi terkait masalah tersebut. Salah satunya saksi Lina Sero alias Lina (39), seorang pedagang yang mana menurut saksi bahwa terduga datang dengan membawa dos dengan tujuan meminta uang sumbangan, namun saksi menyampaikan bahwa untuk meminta sumbangan harus ada keterangan dari pemerintah desa setempat.
“Lalu saksi sempat menyuruhnya duduk dan ingin memberi makan, namun terduga langsung keluar dimana saksi langsung mengejar terduga dan meminta orang-orang sekitar untuk memeriksa terduga. Saksi pun menyimpulkan jangan sampai terduga merupakan penculik anak dengan isu yang sudah sering didengar, selanjutnya massa memeriksa dan menemukan dos berisi uang mainan dan rantai besi sehingga massa mulai menghakimi terduga,”jelasnya.
Kapolres Halut menambahkan bahwa setelah ditelisuri lebih jauh dengan berkoodinasi dengan Dinas Sosial (Dinsos) dan RSUD terkait penanganan orang dengan gangguan jiwa, terungkap bahwa terduga ternyata orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang masih menjalani pengobatan jiwa sejak tahun 2015 sampai sekarang, sesuai dengan surat yang di keluarkan oleh Dinas Kesehatan UPTD Puskesmas Wawangrewu nomor surat: 800/093/Pusk.WR.
“Dalam mengamankan AS alias Ambo, polisi temukan sejumlah barang mulai dari uang mainan sebesar Rp 5 juta, uang asli sebesar Rp 48 ribu, 2 tas yang berisi 1 buah dompet, KTP atas nama Mirna dan Irwandi, NPWP atas nama Liemens Tineke Lidiya, kartu grapari atas nama ucok, 2 on ATM BRI, kartu kandidat caleg atas nama Moh. Randi Saputra AR, SKPD atas nama Sulaiman SI.kom, formulir STCK, 1 buah brosur mobil, 1 buah pulpen, 41 buah cukur kumis, 3 handphone rusak merk Aldo, 2 buah baterai Hp, 2 buah cincin, 8 Iembar slip setoran bank mandiri, 8 buah gelang Imitasi, dan 1 set kunci,”terangnya.
Kapolres Halut pun mengimbau pada masyarakat agar tidak berlebihan takut terkait dengan isu yang beredar tentang penculikan anak, mengingat sampai sejauh ini di Halut belum ada laporan terkait masalah tersebut.
“Anak-anak kita harus tetap diawasi, terutama anak-anak yang diberikan kalung berharga ini sangat rawan ketika terjadi jambret, ini juga patut di waspadai,” pintahnya.

Tinggalkan Balasan