SOFIFI-pm.com, Gubernur Maluku Utara, KH. Abdul Gani Kasuba (AGK), akhirnya menemui ratusan Tenaga kesehatan (Nakes) di RSUD CB yang terus menuntut hak TTP yang belum terbayarkan selama 15 bulan.
Pertemuan terbuka AGK dan ratusan Nakes itu berlangsung di areal parkiran ambulance RSUD CB, Sabtu (24/12/2022).
Gubernur datang dengan pecih putih khas dipadu kameja putih dan celana panjang hitam itu didampingi Kepala Inspektorat, Nirwan MT. Ali, Plt. Direktur RSUD CB, dr. Alwia Assagaf, Kadis Kesehatan, Idhar Sidi Umar dan Karo Adpim Rahwan K Suamba.
Dalam pertemuan itu gubernur menyakinkan kepada para Nakes bahwa, pemerintah provinsi tetap berupaya membayar tunggakan TTP 15 bulan.
Ia bahakn dengan tegas mengatakan, salah satu langkah yang diambil dengan melakukan pinjaman di dua bank. Yakni Bank Maluku dan Mandiri.
Dihadapan para Nakes, gubernur meminta kepada Kepala Inpektorat, Kepada Dinas Kesehatan dan Plt Dirut RSUD CB untuk segera menuntaskan masalah tersebut. Ia juga menjawab tuntutan Nakes dengan menegaskan akan mencopot Plt Dirut RSUD CB.
“Dan saya so (sudah) bilang di inspektorat bikin bagaimana supaya yang tara bisa itu geser sudah, termasuk dr. Alwia, kalau kase geser ya geser sudah. Untuk masalah lainnya Insha Allah so (sudah) tarada lagi,” tandas AGK.
“Jadi apa yang disampaikan Inspektur kemarin dengan temuan, saya langsung berangkat dan pesan tolong pinjam uang untuk selesaikan. Bank Maluku sudah siap mau torang (kami) pinjam uang. Tapi Insha Allah hari ini, saya hadir di depan anak-anaku, mudah-mudahan kita bisa selesaikan problema-problema yang dihadapi,” tambahnya.
Sementara, Direktur RSUD CB, dr. Alwia Assagaf menyatakan sesuai hasil koordinasi untuk mengatasi pembayaran TTP, pihaknya mengambil langkah menindaklanjuti perintah gubernur.
“Kemarin dalam rapat kami rencana pinjam Rp5 miliar. Kemarin saya dengan Kepala BPKAD sudah ke Bank Maluku Malut. Di sana sudah bicara dengan kepala cabang, bahwa bunganya nanti menyurat ke pusat karena di Bank Maluku Malut ini hanya bisa pinjam 1 miliar. Bunganya itu 12 persen,” katanya.
Alwia menjelaskan, pinjaman tersebut harus disesuaikan kekuatan pendapatan RSUD CB, karena dengan besaran bunga 12 persen, BLUD harus membayar total Rp5,6 miliar.
“Bunganya itu Rp600 juta. Sekarang saya sementara menyusun peta kekuatan pendapatan kami. Tetapi saya tetap berharap tahun depan berjalan bisa dilunasi Pemprov. Itu harapan saya, tapi belum ada keputusan itu,” terangnya.
Mantan Jubir Covid1-9 itu menyampaikan, dari besaran pinjaman itu ditaksir mencukupi pembayaran TTP selama dua bulan. Untuk sisanya, kata Alwiah, nanti dikoordinasikan kembali bersama instansi terkait motede penyelesaiannya.
“Nanti kita bicarakan lagi seperti apa jalan keluarnya, karena saya sekarang posisinya sulit. Jadi saya tetap membutuhkan bantuan pemerintah. Kalau pak gubernur sudah sampaikan seperti tadi, harapan tindaklanjutnya ada yang penting sesuai aturan,” katanya.
Ia menuturkan, kenapa pemerintah tidak bayar langsung take over, karena nanti menjadi temuan. Pasalnya, saat ini tidak ada catatan hutang di pemerintah provinsi.
“Catatan hutang itu ada di BLUD. Jadi, BLUD yang harus selesaikan. Tetapi, BLUD tidak punya anggaran, maka siasatnya adalah pinjaman,” tuturnya.
Meski begitu, dirinya belum bisa memastikan waktu pembayaran hak TTP Nakes RSUD CB, karena saat ini pengajuan pinjaman masih diproses pihak bank.
“Nanti saya cek lagi ke bank prosesnya berapa lama,” singkatnya.
Alwiah berharap kepada para Nakes kembali bekerja seperti sedia kala.
“Untuk saya keluarkan kewenangan klinis, teman-teman Nakes harus predensial, karena itu sudah diatur oleh Perhimpunan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), sehingga saya tidak butuh diatur dengan Permenkes. Saya mengajak teman-teman Nakes, ayolah predensial lalu kembali bekerja,” tandasnya.
Ditanyai terkait desakan untuk dicopot, Alwaia menegaskan semula dirinya tidak mau menerima amanat Plt Dirut RSUD CB. Tetapi karena permintaan gubernur akhirnya ia pun menerima tawaran tersebut.
“Saya minta di pak gubernur dengan syarat. Pak gubernur harus bantu, karena saya sudah cukup mendengar banyak masalah di sini, mulai dari tidak ada anggaran dan sebagainya. Kalau saya sendiri kemampuannya sampai di mana dengan kondisi keuangan seperti ini,” pungkasnya.



Tinggalkan Balasan