poskomalut, Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) Maluku Utara menyoroti dugaan hilangnya tiga pekerja PT Mega Haltim Mineral (MHM) akibat insiden longsor dalam area pertambangan di Kabupaten Halmahera Timur.

Kabid Lingkungan Hidup DPD IMM Maluku Utara, Robbi Umagapi menilai peristiwa tersebut sebagai tragedi kemanusiaan yang sangat ironis, karena terjadi bertepatan dengan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional, 12 Januari-12 Februari.

“Tragedi ini menjadi alarm keras bagi semua pihak. Di tengah Bulan K3 Nasional, yang seharusnya menjadi momentum penguatan komitmen keselamatan kerja, justru muncul peristiwa yang mengindikasikan lemahnya penerapan standar K3 di sektor pertambangan,” tegas Robbi Umagapi.

Menurut IMM Malut, hilangnya tiga pekerja tidak dapat dipandang sebagai kecelakaan kerja biasa.

Insiden tersebut harus diusut secara menyeluruh, termasuk menelusuri kepatuhan perusahaan terhadap standar K3, analisis risiko longsor, serta sistem mitigasi keselamatan kerja di lokasi tambang.

“Keselamatan dan kesehatan kerja adalah hak dasar setiap pekerja. Jika dalam prosesnya ditemukan adanya kelalaian atau pengabaian standar K3, maka itu merupakan pelanggaran serius yang wajib diproses secara hukum,” lanjutnya.

Lanjut Robi menyatakan, DPD IMM Maluku Utara mendesak aparat penegak hukum, Kementerian ESDM, serta instansi teknis terkait untuk melakukan investigasi menyeluruh, independen, dan transparan atas insiden tersebut.

Berikutnya, menghentikan sementara aktivitas operasional PT MHM hingga proses investigasi selesai.
Juga menjatuhkan sanksi tegas apabila terbukti terdapat pelanggaran terhadap standar K3 dan regulasi lingkungan.

Selain itu, memastikan adanya tanggung jawab penuh perusahaan terhadap korban dan keluarga korban, baik secara hukum maupun moral.

IMM Malut menegaskan bahwa Bulan K3 Nasional tidak boleh dimaknai sebatas kegiatan seremonial dan slogan semata, melainkan harus diwujudkan dalam praktik nyata perlindungan keselamatan kerja di lapangan.

“Negara tidak boleh abai. Nyawa pekerja jauh lebih berharga daripada target produksi dan keuntungan industri,” tukas Robbi

Mag Fir
Editor