ADA APA DENGAN NGAFI???

Oleh : Anwar_Husen, S.Pd,M.Si.
Mantan Asisten Bidang Perekonomian setda Pemprov Maluku Utara.

Tulisan ini diilhami percakapan di sebuah grup WA yang di kirim kawan saya. Dia yang kebetulan seorang yang berpendidikan kesehatan dan aktif di organisasi profesi kesehatan ini menyatakan kebingungannya terhadap anggota grup lainnya yang ikut-ikutan menolak "Perngafian" ini. Padahal ini adalah pangan lokal konsumsi mereka sejak dulu. Ngafi adalah bagian dari peradabannya.

Memang di pekan terakhir ini, jagat media sosial di hebohkan dengan viralnya sebutan "ngafi". Sejauh yang bisa di amati, ini berawal dari postingan berita tentang bantuan gubernur K.H.Abdul Gani Kasuba,Lc untuk pasien covid19 yang di karantina berupa sekian ton ngafi [sebutan untuk jenis ikan teri kering khas maluku utara].

Apa masalahnya sehingga berita tentang bantuan ngafi ini bisa bikin heboh???dan mengesankan seolah ini adalah hal yang keliru???sehingga alam bawah sadar kebanyakan dari kita terlihat "spontan" menolaknya tanpa sedikit saja berpikir jernih???

Ada beberapa kemungkinan yang coba di kedepankan terkait veriabel "penolakan" atau bahkan di anggap lelucon dari soal ngafi ini :

  1. Mungkin ngafi di anggap tidak patut di beri makan untuk pasien covid19.
  2. Mungkin juga ngafi di anggap jenis ikan yang bergizi rendah dan bahkan jenis makanan "rendahan".
  3. Mungkin pemerintah daerah provinsi maluku utara yang APBD nya besar, di anggap tidak patut memberi bantuan ikan ngafi.
  4. Mungkin statemen ini tidak patut di sampaikan seorang gubernur. Gubernur bicara tentang ngafi, mungkin di anggap terlalu "sepele", bahkan lelucon. Setara halnya ajakan mendukung kontestasi nyanyi di televisi yang lalu.
  5. Mungkin jumlah bantuan ikan ngafi yang sekian ton itu jika di konversi ke nilai rupiah, di anggap terlalu kecil.
  6. Dan "mungkin-mungkin" lainnya.

Kita memang tidak hendak membahas kemungkinan-kemungkinan, karena namanya saja kemungkinan, bisa benar tapi juga bisa salah, dan benar-salah itu sangat juga tergantung pada sudut pandang kita masing-masing.

Setiap orang punya hak menyampaikan sudut pandangnya tapi minimal punya asumsi yang kuat dan sedikit objektif.

Kemungkinan-kemungkinan "penolakan" di atas, setidaknya bisa di sarikan dalam 5 variabel sudut pandang : objek,subjek,situasi/kondisi/psikologi publik,harga/kwantitatif.

  1. Objek : ikan ngafi dan pasien covid19.
    di anggap makanan rendahan yang tidak patut di konsumsi pasien covid19.
  2. Subjek : gubernur/pemprov maluku utara, di anggap tidak tepat mewacanakan ini secara terbuka.
  3. Situasi : penanganan kondisi aktual pandemi saat ini yang bikin banyak orang mengakumulasi kekesalannya lewat media sosial.
  4. Kwantitatif/harga : jumlah ikan ngafi yang sedikit/murah,jauh berbanding APBDnya pemprov di anggap hanya asal-asalan.

Menjawab variabel sudut pandang.

  1. Variabel objek :
    Mungkinkah ikan ngafi itu berkualitas rendah bahkan makanan rendahan yang yang tidak patut di konsumsi pasien covid19???siapa yang bilang ???anda bisa share sumber info di mana saja untuk membaca kualitas gizi ikan ngafi dan bandingkan dengan jenis sumber omega dan protein lainnya.[variabel ini tidak terbukti].
  2. Variabel subjek: Gubernur/pemda provinsi di anggap tidak tepat mewacanakan ini di saat seperti ini???sabar dulu. Justru, bukankah menggairahkan pangan lokal di saat- saat ini justru memberi banyak manfaat???bukankah kekayaan flora dan fauna kita justru jadi objek konsumsi sejak dahulu untuk pengobatan dan makanan bagi kita dan bahkan sebagian suku tobelo dalam yang melegenda itu??? Bahkan jadi objek penelitian biological dunia sekelas wallacea??? Ketika ancaman perubahan iklim dunia dari FAO, lembaga pangan PBB yang menaikan variabel dari MDGs menjadi SDGs, apa maksudnya???bukankah untuk memperkuat pangan lokal??? Lagi pula ancaman covid19 yang belum tahu kapan selesainya justru memacu kita untuk berikhtiar dengan pangan lokal??? Dan yang terpenting : bukankah dari ikan ngafi [pangan lokal itu] kita hidup sejak dulu???bukankah itu bagian dari peradaban kita???lagi pula, adakah pasien covid19 yang di karantina itu bukan orang maluku utara dan harus makan tahu dan tempe??? Belum lagi dari aspek pengembangan UMKM yang memberi hidup pada pelaku usaha dan banyak orang, dan masih banyak alasan lainnya. [variabel ini tidak terbukti].
  3. Variabel situasi/kondisi : Masyarakat di anggap sudah kesal karena menganggap penanganan covid19 tidak maksimal???boleh jadi tapi boleh jadi juga ini pengalaman pertama mengelola serbuan virus yang begitu dahsyat dan tiba-tiba. Dalam banyak hal kita belum siap tapi hubungan/konpensasinya dengan menolak ikan ngafi,di pandang tidak relevan.[variabel perlu di buktikan].
  4. Variabel/harga : Mungkinkah jumlah bantuan ikan ngafi yang hanya sekian ton dan harga di anggap tidak seberapa itu yang memicu penolakan bahkan sedikit di anggap lelucon??? Boleh jadi, tapi menjawabnya, hampir sama dengan pada point 3 di atas. Lagi pula, kemungkinan ini di pandang tidak substansial, sama seperti halnya lelucon, porsi terbesarnya hanya menghibur diri. [variabel sulit di buktikan].

Ngafi adalah realitas sosial sekaligus realitas kultural kita. Meremehkan atau bahkan mengingkarinya, nyaris setara memutuskan garis nasab.

Akhirnya, ini hanya "Panduan" untuk menemukan kemungkinan yang paling mungkin untuk di mungkinkan. Selebihnya, terserah anda.

#ngafiadalahkita

#bravongafi

#sekalingafitetapngafi

Komentar

Loading...