Covid-19 Diantara Sinergitas Pemerintah dan Masyarakat Dimasa Pandemi

Oleh Dr Marwan Polisiri.

Tahun 2020 menjadi tahun yang cukup sulit, tak hanya bagi Indonesia tetapi juga untuk negara-negara lain di dunia. Hal ini terjadi akibat munculnya wabah virus corona atau yang dikenal dengan coronavirus disease 2019 (Covid-19). Virus yang berasal dari China dan menyebar luas ke berbagai negara ini berhasil memporak-porandakan ekonomi dunia dan memicu munculnya krisis baru.

Saat ini dunia telah mengalami ambang krisis babak baru, sebuah fenomena yang datang dari sektor kesehatan dan keamanan masyarakat akibat adanya pandemi virus corona. Kenyataan ini menjadi signal bagi Indonesia yang harus siap berjibaku menanggulangi wabah yang telah menelan ribuan jiwa baika secara medis maupun ketahanan pangan.

Dari data yang dikumpulkan hingga Sabtu, (20/5) virus sudah menginfeksi 4,9 jt orang di seluruh dunia, dengan total kematian 323 rb orang dan 1,69 jt orang sembuh. Sementara Indonesia, data hingga Sabtu (20/5) jumlah orang yang terinfeksi mencapai 18.496 orang, 1.221 orang meninggal dan 4.467 orang sembuh.

Meningkatnya jumlah masyarakat yang terinfeksi virus corona membuat pemerintah menerapkan berbagai kebijakan serta langkah-langkah strategis untuk menekan laju penyebaran virus yang cenderung meningkat. Oleh karenanya partisipasi masyarakat sangat menentukan kebijakan pemerintah guna memutus mata rantai virus corona, adapun partisipasi masyarakat yang harus tetap dilakukan diantaranya:

  1. Physical Distancing, Jaga Jarak, hindari kerumunan, bagi pekerja kantoran baik swasta maupun pemerintah, mulai membiasakan diri bekerja di rumah, rapat-rapat lebih banyak secara virtual, zoom meeting, webinnar, cara ini terbukti efektif dan efisien, murah dan mudah, tanpa SPPD dan biaya honor rapat serta makan minum.
  2. Tetap Dengan Masker, masker bisa jadi gaya hidup, trend baru, mungkin kedepan bisa jadi beragam model masker yang unik dan menarik, bagi wanita muslim kembalilah ke syariat islam, pakailah cadar, berpakaian yang lebih islami, menjalankan perintah agama, amal di dapat, penyakit di tolak.
  3. Tidak Lagi Berjabat Tangan, Di Jepang menundukkan kepala merupakan tanda hormat yang dalam, tidak ada jabat tangan, di Tidore Ada juga budaya Suba Jou yang mengangkat tangan di atas kepala tanda penghormatan yang tinggi, tidak bersentuhan tangan juga sariat islam, apa lagi bukan muhrim khusus bagi wanita dan suami.
  4. Menggalakkan Kembali Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat, banyak hal yang dapat dilakukan dalam berprilaku hidup bersih dan sehat diantaranya dengan menjaga kebersihan diri seperti rajin mencuci tangan dan mandi yang teratur, menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, olahraga atau aktifitas fisik secara teratur minimal 30 menit, makan makanan bergizi, serta membiasakan meminum supplement seperti madu, susu dan vitamin.
    Setelah kita menjalankan 4 langkah secara konsisten dan berkesinambungan, maka kita dituntut untuk tetap survival menghadapi Covid – 19. Kita harus sadar, bahwa didalam memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari kita selalu bergantung pada pasokan pasar, dalam konteks ini kita harus merubah cara pandang demikian, sebab kita tidak tahu 3 bulan kedepan apakah wabah ini akan berakhir? Apakah pemerintah pusat dan daerah masih memiliki cadangan fiskal maupun stock Bulog yang cukup? Oleh karena itu dengan kesadaran penuh marilah kita berempati untuk senantiasa menggalakkan gerakan keluarga bertani, beternak dan nalayan.
    Adapun gerakan tersebut dapat dilakukan dengan pendekatan dan cara yang cukup sederhana, intinya semangat menumbuhkan kesadaran secara kolektif tentang peran keluarga didalam mensikapi kondisi bencana/wabah yang menimpa masyarakat tertentu dengan mengoptimalisasikan potensi kedaerahan yang dimiliki:

a. Gerakan Bertani: Gerakan ini dapat dilakukan dengan cara menanam ubi, jagung, ketela dan kebutuhan pangan lokal lainnya, hal ini juga dapat dikerjakan baik untuk keluarga kecil skala rumahan. Namun bagi petani wajib menanam 1 hektar ubi atau ketela atau yang lainya.
b. Gerakan Berternak: kesadaran untuk memelihara ayam, kambing atau sapi skala rumahan memiliki peran besar dalam menjaga ketahanan pangan. Sehingga dalam skala rumahan cadangan kebutuhan dasar seperti daging dan telur sudah tercukupi untuk konsumsi sendiri.
c. Gerakan Nelayan: masyarakat kepulauan memiliki potensi bahari yang cukup bisa diandalkan, disamping laut Kita cukup luas, kekayaan hayati yang terkandung menjadi modal untuk menjaga ketahanan pangan masyarakatnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan dengan membiasakan diri mencari ikan dengan cara sederhana seperti memancing dan lain sebagainya minimal untuk kebutuhan keluarga kecil.

Catatan diatas sebagai satu upaya yang harus dan dapat dilakukan masyarakat terhadap fenomena pandemic corona yang sedang berlangsung di negara tercinta Indonesia, Hal ini jangan ditafsir sebagai kegagalan pemerintah pusat maupun daerah didalam menanggulangi wabah corona disetiap wilayah. Namun hal ini, sebagai sebuah ajakan kepada masyarakat agar dapat bersinergis dengan pemerintah menanggulangi bencana yang harus segera kita antisipasi bersama-sama.!

Cobodoe, Tidore Maluku Utara, 20 Mei 2020

Komentar

Loading...