poskomalut.com
baner header

Konspirasi Menjegal Kebangkitan Berpikir Kritis

Sitti AT

By SITI AT

Saat ini begitu banyak informasi yang mudah didapatkan melalui media sosial. Apakah itu masih dalam bentuk wacana, atau sebuah ide, karya, sampai tingkat aib orang pun bisa kita ketahui.
Media sosial saat ini merupakan refleksi kebebasan untuk berpendapat. Dan dari media sosial juga kita menemukan lubang-lubang atau celah untuk melakukan perlawanan.

Namun, kali ini fokus saya sedang tertuju pada pembahasan kepemimpinan didaerah saya. As we know lah, setiap orang punya figur yang ingin dicalonkan untuk memimpin daerah. Berharap aspirasinya bisa didengarkan dan ditunaikan dengan barometer yang telah mereka tentukan. Orang-orang yang pro terhadap figur yang dipilih akan melakukan berbagai cara agar pilihan mereka bisa menduduki singgasana yang disebut “Kekuasaan”. Tidak memungkiri bahwa setiap ada yang pro pasti ada yang kontra. Pihak yang kontra berusaha melakukan hal yang sama untuk figurnya sendiri. Tapi apa daya, dunia perpolitikan selalu menghadirkan cara busuk untuk meraih kemenangan. Yang dinilai dari lawan adalah keburukan atau mencari kesalahannya. Sehingga segala prestasi yang ditoreh pun tidak dianggap.

Penilaian-penilaian yang dilakukan dan berbagai macam spekulasi muncul bebas ditengah-tengah masyarakat. Tidak mau ketinggalan, para kawula muda yang mempunyai daya tarik pada setiap kebijakan pemerintah pun mulai memunculkan pendapatnya secara implisit dan eksplisit. Apakah dalam bentuk verbal ataupun langsung dituangkan dalam tulisan. Tidak lain tujuannya adalah memberikan argumentasi tentang pencapaian-pencapaian program kerja pemerintah.

Namanya kekuasaan akan berpihak dan melindungi dan merangkul orang-orang sepemikiran dengan mereka, mengharapkan kehidupan yang damai sentosa. Sedangkan mereka yang berbeda cara pandang dianggap radikal dianggap berbahaya karena ingin menyingkirkan penguasa untuk mengembalikan kejayaan yang telah hilang.
Oleh karena itu, pihak yang pro terhadap figurnya dituntut untuk mengembangkan berbagai strategi untuk melindungi kelompoknya terutama publik figur yang dicalonkan. Sejumlah cara telah dicanangkan, apakah melalui kampanye,blusukan secara langsung, atau berbagai pencitraan yang dilakukan dimedia sosial (saya tidak menyebutnya sebagai manipulasi artificial intelligence) sesuai dengan progress masing-masing figur.

Ketika ada sebuah pemikiran kritis terhadap salah satu calon pemimpin yang disuarakan dari salah satu anggota masyarakat, maka bersiaplah orang yang mempunyai pikiran tersebut mendaparkan serangan balik dari kelompok yang pro terhadap calon itu. Menurut pendapat saya itu adalah hal yang wajar dilakukan, sebab semua makhluk terutama manusia tidak mau diserang. Maka akan muncul perlawanan.
Tapi, bedanya  yang diserang saat ini adalah hal yang bersifat fundamental dari si pemikir, apakah itu pendidikan ataupun status sosialnya yang secara nyata itu bersifat subjektif. Sedangkan isi dari argumentasi tersebut bersifat objektif berdasarkan pengamatan terhadap pencapaian program kerja yang telah berlangsung selama periode masa kekuasaan.

Bisa dikatakan ini adalah bentuk konspirasi penjegalan kebangkitan pemikiran kritis dari masyarakat itu sendiri. Secara tidak langsung telah menyalahi tujuan UUD 1945 pada alinea ke-IV “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Daya pikir kritis merupakan indikasi masyarakat kita telah cerdas dalam menilai segala sesuatu.
Jika pun penyampaian yang dilakukan telah menyalahi aturan, maka yang diperbaiki dan disoroti adalah pendapatnya atau buah pemikirannya. Itu yang paling penting. Bukan mengintervensi privasi atau hal fundamental dia.

Mau sampai kapan seperti ini..? Bukankah kritik adalah bentuk CINTA rakyat terhadap pemimpinnya..? Sesuai isi Al-Quran
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS.An-Nisa’ ayat 59).

Pembatasan kebebasan berpendapat adalah hal yang kurang baik jika dilakukan oleh sekelompok orang apalagi oleh pemimpin. Sebab indonesia menganut sistem demokrasi, yang harusnya mau menerima kritikan dan saran dari berbagai rakyatnya, demi kemajuan suatu bangsa.
Dan semoga kejadian diatas bukan di kota weda,kab. Halmahera Tengah. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: