“Pejuang AMAN tidak takut hujan, pejuang AMAN tidak takut basah” gema kalimat-kalimat itu membakar semangat juang para melenial AMAN.
Dua kelurahan kembar, Kelurahan Rum dan kelurahan Rum Balibunga membuktikn militansinya terhadap perjungan pemenangan AMAN Jilid II. Bahkan langitpun harus tunduk pada eksistensi semangat yang terus membara dari detik ke detik pada kampanye terbatas dan tatap muka gabungan tersebut.
Momentum pembuktian militansi itu, terjadi manakala ribuan massa pendukung AMAN Jilid dua dari kedua kelurahan kembar itu tidak gentar terhadap guyuran hujan malam yang menggigil. Pasalnya, ditengah-tengah prosesi kampanye yang berlangsung pada Minggu, 22 November 2020 langit Tidore sedang mendung dan geram memuntahkan air hujan. Acara sempat tertunda karena untuk menyelamatkan alat-alat elektronik agar tidak rusak terkena air.
Massa yang sempat juga menepi untuk menghindari air hujan semakin gelisah dan tak tahan ingin membuktikan bahwa mereka adalah para militan sejati yang tak takut terhadap tantangan apapun. Riak dan sorak yel-yel “AMAN LANJUTKAN” semakin pecah tanda genderang perang terhadap kehendak langitpun dimulai.
“Pejuang AMAN tidak takut hujan, pejuang AMAN tidak takut basah” gema kalimat-kalimat itu membakar semangat juang para melenial AMAN. Seluruhnya tumpah ruah keluar tenda, melompat-lompat dan bersorak sorai sembari mengundang diantara satu dan yang lain. Suasana menjadi semakin membara dengan api semangat yang terus menerus berkoabar-kobar dibawah tekanan petir dan Guntur yang terus bergemuruh.
Bahkan diantara para melenial itu, menengadah wajah kelangit seolah-olah menantang agar langit menurunkan hujannya lebih deras lari. Tak tanggung-tanggung seluruh komposisi tim pemenangan di tingkat Kota maupun Tim pemenangan di tingkat Kelurahan turut mengambil bagian dalam semangat yang membakar itu.
Ribuan orang di sisi utara panggung kmpnye dan ribuan pula di sisi selatan menunjukkan semangat perjuangan yang sama dibawah komando Yudi Wahid sebagai ketua Tim Pemenangan AMAN Jilid dua Kota Tidore Kepulauan. Langitpun seakan menjadi malu pada dirinya sendiri, guyuran hujan yang tadinya lebat berhenti serentak bersama bintang-gemintang yang kian nampak, tertanda langit kembali cerah.
“Biar hujan badai torang tetap AMAN-AMAN saja” kalimat itu keluar bersama pecah tawa, sembari berpelukan diantara satu dan yang lainnya sebagi symbol Kemenangan atas cuaca yang tidak mendukung. Mungkin dalam hati ribuan masa itu berseru “Langitpun tunduk kepada kami, apalagi mereka para tim sukses di kubu sebelah”.
Tak cukup sampai disitu, militansi kelurahan Rum dan Rum Balibunga masih teruji lagi. Ujian kedua ini cukup lama dan mengharukan, yakni acara pada malam itu terhambat kembali dengan pemadaman listrik. Terpaksa acara kampanye terbatas dan tatap muka AMAN Jilid II harus terhenti, untuk menunggu listrik kembali terang.
Lima belas menit pertama, ditengah-tengah kegelapan itu tidaak ada satupun massa yang beranjak pergi meninggalkan tempatkampanye. Tiga puluh menit pertama masih tetap sama, massa tak ada satupun yang rela meninggalkan lapangan juang itu. Empat puluh lima menit berlalu, listrik masih belum terang massa masih tetap tenang di tempat. Sesekali sorak AMAN LANJUTKAN membakar eksistensi perjuangan perjuangan mereka.
Hingga enam puluh menit pertama, satu jam berlalu, lagu-lagu kebangsaan mulai terdengung disisi utara dan selatan panggung. Mengiang di tengah-tengah kegelapan, tanda militansi mereka tak akan pudar dengan tantangan dan halangan apapun.
Nyanyian lagu kebangsaan itu terus melantun hingga ke sanubari langit, menjadi bait-bait do’a dari orang-orang yang tulus dan ikhlas dalam memperjuangkan nasib mereka, dan membuktikan diri pada keadaan bahwa mereka taka akan meninggalkan Capt. H. Ali Ibrahim dan Muhammad Sinen dalam keadaan apapun.
Melihat hal itu, kami mulai ingat satu persatu militansi AMAN Jilid II di Kelurahan/desa lain, terutama empat desa di Pulau Maitara, para pejuang dan Militansi di Kelurahan Gurabati, Ome dan Toloa yang mendapat geliran jadwal kampanye kedua di zona dua. Ingatan itu bangkit atas persamaan semangat, cita dan tujuan yang satu. Jika seandainya pada kelurahan/desa yang kami sebutkan tadi mengalami hal yang sama dengan Kelurahan Rum dn Rum Balibunga, maka suasanannya pasti sama. Yakni tidak ada satupun rakayat yang rala meninggalkan capt. H. Ali Ibrahim dan Muhammad Sinen dalam keadaan apapun.
Menutup tulisan ini, kampanye tatap muka dan pertemuan terbatas malam itu terus berlanjut setelah listrik kembali terang, dengan massa yang jumlahnya maih tetap hingga usai batas waktu yang diberikan oleh penyelenggara pemilu. (**)



Tinggalkan Balasan