Oleh M. Wildan

Ruang publik kita kembali dibuat ramai dengan wacana pembangunan terowongan antara Masjid Istiqlal dan Katedral di Jakarta, sebuah proyek yang dianggap monumental oleh penggagasnya dan diharapkan menjadi simbol silaturahmi antar umat beragama.

Ide terowongan ini seolah menjadi obat dari kecamuk intoleransi yang sedang merebak antara umat beragama di Indonesia, berbagai pihak pun angkat bicara menyikapi ide ini, ada yang pro dan ada yang kontra, ada yang mempertanyakan urgensi pembangunan terowongan tersebut dan ada juga yang melihat terowongan itu penting ada sebagai simbol kerukunan. Presiden Jokowi pun dengan secepat kilat kemudian menyetujui gagasan tersebut.

Namun apakah terowongan mampu menjadi penghubung jurang komunikasi yang gagal dihadirkan negara?

Mari sedikit kita membedah maksud apa dibalik ide terowongan tersebut jika alasan pembangunnannya ialah sebagai simbol kerukunan.

Terowongan sepanjang sejarah selalu identik dengan jalan rahasia, di eropa terowongan biasanya menghubungkan satu kastil dengan kastil yang lain, bahkan di beberapa tempat keberadaan terowongan yang menghubungkan dua bangunan yang agung selalu dibicarakan seperti legenda bahkan mitos bagi masyarakatnya.

Soal lain kehadiran terowongan biasanya untuk memangkas jarak antara pulau atau negara dan biasanya karena pertimbangan bisnis, misalnya terowongan Seikan, terowongan kereta api bawa laut yang menghubungkan pulau Honsu dan pulau Hokkaido merupakan jalur terpanjang yang pernah dibuat dalam sejarah manusia sekitar 53.9 km, sebelum akhirnya dikalahkan oleh panjangnya terowongan Gotthard di Swiss yang membelah pegunungan Alpen. Bagi Swiss, menaklukan Alpen sama seperti Belanda menjelajahi lautan.

Proyek terowong terpanjang di dunia (57.5 km) yang dibangun sekitar 30 tahun lebih ini melewati Alpen Swiss antara Eropa Utara dan Selatan. Ini semacam membangun jati diri karena kehadiran terowongan Gotthard membuat perubahan besar dalam sarana perhubungan di Eropa. Swiss berusaha menunjukan pada dunia bagaimana menjelajahi lautan dengan cara yang lain, dengan waktu yang lebih efisien dan sangat menguntungkan. Begitulah alasan sebuah karya monumental dibangun.

Kita juga tentu pernah mendengar tentang adanya terowongan yang menghubungkan Istana Merdeka dengan Monas di seberangnya, apakah ini fakta atau sekedar mitos, penulis pun belum pernah melihatnya meskipun pernah ada liputan media mengenai adanya terowongan rahasia kuno disekitar Istana Merdeka.

Dalam satu perspektif mungkin keberadaan terowongan yang menghubungkan dua tempat ialah hal yang biasa, namun dalam kasus proyek terowongan ini justru menjadi luar biasa, bukan karena nilai proyeknya yang besar dan mahal untuk ukuran jarak yang sangat dekat tetapi karena dua tempat yang dihubungkan merupakan dua simbol utama dua agama besar di Indonesia.

Satu hal yang ramai dalam percakapan publik menyangkut ide ini ialah bahwa terowongan tersebut diharapkan menjadi simbol, oleh karena itu terowongan tersebut harus kita pandang secara semiotik, jika benar yang dituju ialah simbol silaturahmi dan kerukunan bukankah akan lebih baik jika dibangun jembatan diatas tanah atau bahkan diudara agar semua orang dengan terang dan terbuka melihat siapapun yang berjalan melaluinya ? bukankah silaturahmi akan lebih baik jika dijalin dengan terbuka tanpa rahasia ? Sementara terowongan identik dengan lorong panjang gelap penuh rahasia meskipun terdapat cahaya dikedua ujungnya.

Penulis tidak mengerti semiotik apa yang coba digambarkan para pemilik ide ini, Apakah selama ini komunikasi antara umat beragama di Indonesia sedemikan beku sehingga diperlukan jalan rahasia guna mencairkannnya? Ataukah terowongan ini dianggap sebagai bentuk kehadiran negara. “menerowongi (menjembatani)” gap komunikasi antara umat beragama? Apakah pemerintah lupa bahwa angin intoleransi justru seringkali berhembus dari kantor-kantor pemerintah? Mari cobalah kita bertanya pada rumput yang bergoyang.

Kita tentu masih ingat bahwa persoalan komunikasi antar umat beragama merupakan persoalan klasik yang sejak Republik ini berdiri telah dipikirkan dan diperdebatkan sedemikan dalam oleh para founding fathers kita, sehingga sedikitpun kita tidak akan kekurangan referensi dalam mencari jalan dari persoalan tersebut. Tentu kita butuh pemerintah yang memiliki Kecerdasan teknis sekaligus kecerdasan semiotik dalam menjalinkan komunikasi yang katanya beku tersebut.

Kita hanya bisa berharap semoga terowongan ini tidak hadir sebagai jalan rahasia yang gelap dan panjang dalam mencairkan komunikasi bangsa yg terlanjur beku akibat ulah pemerintah sendiri yang seringkali gagap dalam menyikapi persoalan-persoalan publik. Semoga terowongan tersebut hadir sebagai jalan silaturahmi dan bukan sebagai jalan transaksi.

Diluar itu semua semoga pembangunan terowongan ini kembali dikaji urgensinya apakah efektif atau tidak dalam menghubungkan dua tempat sakral tersebut baik secara teknis maupun secara simbolik. (*)