poskomalut, Pemda Morotai menggelar dialog dengan Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) membahas sejumlah isu penting seperti pendidikan, kesehatan dan lingkungan hidup.
Kegiatan kedua pemda itu diinisiasi Stimulant Institute bersama Save the Children Indonesia melalui program KREASI.
Dialog ini bertujuan mendorong kolaborasi dan refleksi lintas wilayah terhadap kebijakan dan praktik pemerintahan yang mengedepankan hak anak, terutama dalam sektor pendidikan, kesehatan, dan lingkungan hidup.
Kepala Bappeda Morotai, Ahdad hi Hasan saat membuka dialog menyampaikan bahwa pendidikan dan kebersihan jadi prioritas.
Pulau Morotai menunjukkan keberpihakan nyata terhadap hak anak melalui kebijakan pendidikan dan kebersihan yang progresif dan berkelanjutan.
Sejak 2018, Morotai telah mengalokasikan pendanaan gratis untuk pendidikan dan kesehatan, serta pengelolaan kebersihan lingkungan berbasis regulasi, yakni melalui Perda No. 2 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Sampah.
“Kami pastikan lingkungan bersih dari sampah melalui kerja sama antara pemerintah daerah dan desa, dengan alokasi dana dari APBD dan ADD,”jelas Ahdad, Jumat (20/6/2025).
Di bidang pendidikan, pemerintah sudah memberikan beasiswa penuh kepada 1.112 siswa hingga jenjang S1, baik di Universitas Pasifik maupun kampus lain di luar daerah, jika program studi yang diinginkan tidak tersedia di Morotai.
“Pemda Morotai telah mengalokasikan 20% APBD untuk sektor pendidikan. Selain itu, program beasiswa dibiayai di luar alokasi tersebut, sebagai wujud nyata keberpihakan terhadap pengembangan generasi muda, terkait pengelolaan sampah, memang belum ada penanganan khusus terhadap sampah yang dihasilkan. Namun, hal ini akan menjadi perhatian serius ke depannya,”terangnya.
Sementara, perwakilan Kabupaten Sumba Barat, misalnya Bappelitbangda, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak menyampaikan ketertarikannya untuk mengadaptasi sejumlah praktik baik yang diterapkan di Morotai.
Charles Weru, Kepala Bappelitbangda Sumba Barat, secara khusus menekankan pentingnya pemetaan anggaran untuk mendukung pembentukan satuan tugas kebersihan di semua tingkatan.
Sementara itu, Direktur Stimulant Institute, Stepanus Makambombu menyoroti potensi ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah, yang dinilainya mampu mendorong inovasi lokal sekaligus menciptakan ekosistem pemberdayaan masyarakat.
Di bidang pendidikan, Yoseph Mola, Kabid SD Dinas PKO Sumba Barat, tertarik pada penggunaan instrumen pengukuran capaian literasi sebagai dasar evaluasi berbasis data. Dari sisi pembiayaan pendidikan, Daniel B. Baninema dari Bappelitbangda mendalami lebih lanjut mengenai skema anggaran untuk program beasiswa.



Tinggalkan Balasan