Penyakit Tidak Rasis

Gufran

Oleh M. GHUFRAN H. KORDI K

Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization) memilih nama Covid (Coronavirus disease)-19 untuk menamai penyakit yang disebabkan oleh virus korona (corona), yang pertama kali mewabah di Wuhan, Hubei, Tiongkok/China. Pemilihan nama Covid-19 dimaksudkan untuk menghindarkan stigma negatif terhadap wilayah di mana penyakit itu pertama kali ditemukan.

Nama penyakit seperti “flu spanyol” atau nama lain yang dihubungkan dengan wilayah, etnik, bangsa, dan negara, tidak dibenarkan untuk digunakan, karena akan memunculkan stigma yang mengarah pada diskriminasi dan rasisme.

Di awal munculnya Covid-19 juga sudah memunculkan bahasa-bahasa yang rasis, seakan-akan penyakit tersebut hanya ditujukan kepada bangsa dan negara tertentu. Postingan rasis berseliweran di media sosial (medsos), karena pengguna medsos sangat minim informasi, minim pengetahuan, dan tidak berakal sehat.

Penyakit dan Kelas Sosial
Sekarang ini Covid-19 menunjukkan kepada semua umat manusia di dunia, bahwa makhluk renik yang oleh virolog dinamai korona itu, tidak memilih manusia berdasarkan ras, etnik, agama, budaya, bangsa, dan negara. Siapa saja yang kontak dengan pembawa (carrier) berpeluang terinfeksi. Dan mereka yang terinfeksi pun lebih banyak yang sehat karena memiliki kekebalan tubuh yang baik.

Jumlah korban yang meninggal pun sebenarnya tidak banyak dilihat dari sisi persentasenya. Mereka yang meninggal juga sebagian besar berusia lanjut dan mempunyai penyakit bawaan. Yang namanya makhluk hidup, termasuk Homo sapiens—nama ilmiah manusia, tidak akan tinggal terus di bumi, pasti meninggal kalau sudah berusia lanjut.

Tetapi Covid-19 sangat menakutkan, bukan hanya menyebar sangat cepat, tetapi ada faktor lain yang melingkupinya yaitu media, ekonomi, dan kekuasaan. Media menebar horor kematian dengan judul berita seakan-akan Covid-19 akan menghabisi semua manusia di bumi. Media mengulang-ulang berita mengenai Covid-19 dan menyorot berulang-ulang jumlah orang terinfeksi dan jumlah yang meninggal, seperti pengisian daftar hadir secara berurutan, setelah dia, besok siapa lagi, hingga tiba giliran kita.

Ketika jumlah orang terinfeksi dan meninggal di Wuhan menurun tajam, justru tidak menjadi berita yang menarik. Akan tetapi berita mengenai Italia dan Iran yang terus-menerus membanjiri media dan media sosial. Saat ini, Amerika Serikat (AS) dan Indonesia menambah daftar negara yang mendapat sorotan karena jumlah kematian yang dianggap tinggi. Empat negara yang menghadapi bencana ini diberitakan dari berbagai sisi yang menakutkan.

Lantas kita akan bertanya, siapa yang berada di balik berita itu. Tentu jurnalis atau pekerja media, yang sebenarnya juga dilanda ketakutan, sehingga suka memberitakan hal-hal yang menakutkan. Orang-orang yang takut menjadi berani setelah berada atau melewati suasana yang menakutkan itu. Jurnalis yang bekerja media-media besar adalah kelas menengah yang telah kehilangan rasa takut, karena dalam menjalankan profesinya mereka telah dilengkapi dengan berbagai perlengkapan/pelindung dan kebutuhan, termasuk jaminan kesehatan dan kehidupan mereka.

Bisnis Ketakutan dan Penyakit
Mengapa Covid-19 menjadi berita yang begitu populer sekaligus menakutkan. Pertama, Covid-19 pertama kali muncul di Tiongkok, raksasa ekonomi yang saat ini berhadapan dengan AS dalam perang dagang dan perang pengaruh. Tentu media besar di AS dan Eropa pendukung kapitalisme berada di balik berita horor yang berhubungan Covid-19. Ketika jumlah warga AS yang terinfeksi Covid-19 terus meningkat pun, Donald Trump, masih rasis menyebut Covid-19 sebagai penyakit wuhan.

Kedua, perlombaan sains dan perusahaan farmasi yang memanfaatkan wabah ini untuk meraup keuntungan. Hampir tiap hari berita mengenai temuan vaksin Covid-19 membanjiri dunia maya, walaupun berita itu masih tidak jelas. Perusahaan raksasa farmasi dan perlengkapan kesehatan dunia di negara-negara maju berlomba-lomba mempromosikan produk mereka di tengah ketakutan ini, dan tentu mereka akan memperoleh keuntungan besar.

Jangan lupa sakit dan penyakit adalah bisnis besar dan otak dari bisnis adalah keuntungan. Ketika orang dalam kondisi sekarat di bawa ke rumah sakit pun, yang diributkan adalah kartu-kartu: kartu BPJS, KIS, asuransi, dan sebagainya, nyawa sering menjadi urusan belakangan setelah kartu-kartu itu. Di negeri ini, masih ada orang ditolak rumah sakit atau di tahan rumah sakit karena tidak bisa membayar.

Ketiga, Covid-19 adalah penyakit kelas menengah, karena setelah diumumkan di Wuhan, penyakit ini menyebar mengikuti pergerakan manusia, dan manusia yang membawa penyakit ini mayoritas kelas menengah. Penyakit ini bukan memilih kelas menengah, tetapi menemukan inang (host) berupa kelas menengah yang berpindah dari daerah terinfeksi atau kontak dengan orang-orang yang terinfeksi.

Karena menginfeksi begitu banyak orang-orang dari kelas menengah, tidak heran jika menjadi berita besar dan menakutkan. Jika Covid-19 menginfeksi masyarakat kelas bawah yang miskin, kemungkinkan tidak menjadi berita besar. Pesawat yang jatuh menewaskan seratusan orang menjadi berita besar di semua media dalam waktu lama. Tetapi kereta atau kapal ferry kelas ekonomi yang terbalik dengan korban tewas tiga kali lipatnya hanya menjadi berita sehari. Karena kereta dan ferry kelas ekonomi adalah alat transportasi rakyat miskin.

Keempat, Covid-19 mengubah kebiasaan dan perilaku manusia. Manusia harus menjaga jarak, tidak boleh bersalaman, berpelukan, termasuk sementara tidak beribadah di rumah ibadah, kalau pun tetap beribadah berjamaah di rumah ibadah harus menjaga jarak. Seharusnya manusia tidak perlu terkejut dengan situasi itu, karena industri 4.0 dan era internet telah memutus hubungan fisik manusia, dan membangun hubungan sosial secara virtual.

Ini menjadi berita besar, karena kegagapan agamawan dan mereka yang belajar ilmu-ilmu agama dalam menghadapi perubahan. Selama ini agamawan memanfaatkan teknologi internet untuk berdakwah, tapi mereka tidak pernah membahas boleh tidaknya ibadah secara virtual, dan berbagai masalah kontemporer yang mengikutinya, yang belum dibahas di dalam ajaran agama.

Di sisi lain, ketika pemuka agama dan organisasi keagamaan menyerukan dan meminta umat, untuk sementara beribadah di rumah, muncul protes bahkan dengan bahasa menuduh dan melecehkan. Mereka ini kelas menengah yang bukan agamawan, bukan juga berlatar belakang ilmu-ilmu agama. Semangat mereka dalam beragama sangat tinggi, tetapi tidak dibarengi dengan akhlak dan ilmu, sehingga mereka bahkan berani mencaci dan memfitnah ulama dan ahli agama. Semangat beragama tanpa ilmu itulah yang memunculkan keributan di media dan medsos.

Takut yang Berbeda
Dalam situasi seperti ini, siapa pun pasti takut, tapi ketakutan setiap manusia dan setiap kelas juga berbeda. Kelas menengah takut terinfeksi Covid-19 dan takut mati dari penyakit yang disebarkan oleh sesama golongannya ini. Karena itu setiap hari ikut membanjiri media sosial dengan seruan, yang sebagiannya juga berupa horor kematian. Apalagi dengan kurangnya aktivitas karena bekerja di rumah, maka jari-jari kelas menengah ini semakin lincah menebar horor.

Sementara kelas bawah juga takut mati karena tidak bisa bekerja dan tidak memperoleh pemasukan, artinya tidak bisa makan. Mereka masih berada di jalanan atau di pasar bukan karena melawan seruan pemerintah dan agamawan, tetapi mereka takut tidak bisa makan. Sebagian besar dari mereka mungkin tidak mengikuti perkembangan Covid-19, karena untuk itu dibutuhkan smarthphone dan pulsa data. Bagi mereka, Covid-19 tidak berbeda dengan asap dapur tidak mengepul, yang artinya juga sama-sama membunuh.

Seruan pembatasan sosial pembatasan sosial (social distancing) untuk memutus rantai Covid-19 berdampak serius pada masyarakat kelas bawah. Karena itu, sumbangan untuk pembelian APD (alat pelindung diri) bagi tenaga kesehatan sama pentingnya dengan sumbangan untuk kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat kelas bawah.

Di sisi lain, informasi dari sumber pertama dari media sangat penting, di tengah pengguna medsos yang hanya mengandalkan smatrphone dan jari dalam membagikan informasi. Akan tetapi, publik juga harus cerdas dan kritis menerima informasi dari media, karena media bukanlah institusi di ruang hampa. Media mempunyai agenda dan kepentingan sendiri, yang tidak selalu sejalan dengan kepentingan publik.[]

Komentar

Loading...