Pilkada Halmahera Uatara menjadi agenda masyarakat 5 tahunan yang dinanti-nantikan oleh semua kalangan masyarakat Halmahera Utara. Baliho, sticker dan baner sudah terlihat ramai menghiasi jalanan kota Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara. Foto kandidat yang terpampang di baliho, sticker dan bener begitu elegan tersenyum lebar, berwibawa, humanis dan santun.

Dari momentum ke momentum pilkada di Halmahera Utara, baliho sticker dan baner menjadi perhatian khusus, senyum bibir para kandidat begitu mempesona seakan mereka adalah para pemimpin ideal tak tertandingi oleh siapapun. Padahal mereka itu dikenal dan berada dilingkungan masyarakat. Tetapi ketika memajukan diri di pilkada, mereka mulai terlihat beda dan jauh seakan terlihat mereka seperti manusia kayangan penolong atau penyelamat masyarakat yang sekarat karena kemiskinan. Apakah ini adalah politik pencitraan, atau politik polesan yang memoles mereka hingga menampakan citra wajah kayangan?

Citra merupakan rekonstruksi atas simbol dan penampilan luar suatu produk, entah itu barang atau jasa. Individu atau perorangan juga bisa mencitrakan diri. Dengan berdandan sedemikian rupa orang yang kelihatan jelek, terlihat tampan dan berwibawa, padahal kehidupan kesehariannya tidak seperti itu.

Demikian juga dalam arena pilbub atau kepala daerah kandidat secara pragmatis akan “memanipulasi diri” agar dikagumi dan dipilih. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi membuat orang bicara lebih meyakinkan tentang politik pencitraan: sebuah politik salon kecantikan yang mengurus make up, bedak dan gincu, untuk merebut posisi kepemimpinan.

Dalam hal tersebut banyak yang terjebak ke dalam anggapan dan kesadaran palsu bahwa “ilmu kulit” (polesan bedak dan gincu) itu “penting”. Namun salah, para tokoh itu sengaja memalsukan kesadaran umum dan membiarkan kepalsuan berkembang demi keuntungan politik mereka.

Maka suatu citra “dibuat”. Ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi bisa ” membuat” seseorang tampak unggul dari yang lain.
karena itu, dalam “pilkada atau pemilu” si unggul buatan dan palsu inilah yang menang. Ilmu manipulatif itu bisa membuat seorang tokoh otoriter, emosian dan rasis menjadi seolah begitu demokratis dan peduli kemanusiaan.

Tokoh yang tak tahu apa-apa tentang dunia anak seolah begitu protektif dan proaktif terhadap anak-anak dan tokoh yang berwatak sektarian , fanatik dan pemuja kekerasan, bisa “dicitrakan” sebagai orang toleran, inklusif dan akomodatif terhadap pluralitas kebudayaan.

Di sana-sini tampil watak hipokrat yang difasilitasi pemodal yang kelihatannya melek tetapi tertidur. Sambil menabur wajah dengan bedak, memoles bibir dengan lipstik merekah mendesah.

Sebab, itu tidak heran hari ke hari pemilik modal dan penguasa bertindak semena-mena dihadapan mata penontonnya yang mudah sekali terprovokasi yang sadar tidak sadar menjadi bulan-bulanan ‘opini’.

Demikian juga dalam arena pilbub atau pemilihan kepala daerah, kandidat secara pragmatis akan “memanipulasi diri” agar dikagumi dan dipilih.

Pendek kata, selain operasi plastik di dunia kedokteraan bisa mengubah wajah manusia, ilmu komunikasi juga mampu memanipulasi jiwa dan perilaku manusia sesuai kehendak pemesan.

Kapital dan politik telah saling berkaitan dalam pemilu, terutama pilbub atau kepala daerah, pemenang sebenarnya adalah pemilik modal. (*)