TOBELO-pm.com, Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) menjadi momentum mencerdaskan kehidupan bangsa lewat partisipasi pendidikan yang bermutu.

Namun bagi Siswa SMP 18 Desa Asmiro Kecamatan Loloda Utara Halmahera Utara (Halut), Maluku Utara, merasakan pendidikan yang bermutu hanya mimpi yang sulit jadi kenyataan.

Mereka belum merasakan keadilan dan kesejahteraan dalam menimba ilmu. Siswa SMP 18 Desa Asmiro harus menyeberangi derasnya air sungai di kampung mereka untuk mengikuti proses belajar mengajar.

Setiap hari bertaruh nyawa untuk bisa sampai di sekolah sudah biasa bagi mereka.

Kondisi sungai di Desa Asmiro rawan terjadi banjir. Seringkali mereka (para siswa) menggunakan rakit dari pohon pisang untuk seberangi sungai.

Perhatian dari Pemerintah Daerah Kabupaten Halut sengat diharapkan. Begitu juga Pemerintah Provinsi Maluku Utara dan Pemerintah Pusat dapat memperhatikan infrastruktur juga kesejahteraan pendidikan.

Tepat pada peringatan pendidikan 2 Mei 2025, ada pemandangan yang begitu miris. Satu Video berdurasi 1 menit 10 detik memperlihatkan perjuangan anak-anak Desa Asmiro mencapai sekolah mereka.

Kondisi piluh itu sudah berulang kali dikeluhkan warga setempat. Namun belum mendapat perhatian serius dari pemerintah.

Bupati Halut, Piet Hein Babua mengamini situasi tertinggalnya pendidikan di Desa Asmiro.

Ia menyebut banyak anak-anak sekolah terpaksa menyeberang sungai, bahkan berenang demi mengejar pendidikan.

“Ini adalah fakta yang tidak bisa kita tutupi,” ungkap bupati saat RPJMD, Jumat (2/5/2025).

Ia berharap persoalan ini dapat menjadi perhatian serius. Tidak hanya bagi pemerintah kabupaten. Tetapi juga provinsi dan pemerintah pusat juga harus menaruh perhatian serius.

“Kami mohon perhatian dari pemerintah provinsi maupun pusat agar bersama-sama menangani persoalan infrastruktur di desa-desa terpencil. Jangan biarkan ini menjadi beban pemerintah kabupaten semata,” pintanya.

Mag Fir
Editor