PSBB Dahulu, New Normal Kemudian

Foto penulis, Dwi Cahyadi, SST (Statistisi Pertama Seksi Statistik Kependudukan BPS Provinsi Maluku Utara).

Baru-baru ini, Presiden Joko Widodo, menerima informasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menejelaskan bahwa Covid-19 diprediksi tidak akan hilang untuk waktu yang cukup lama. Berdasar dari informasi tersebut, beliau mengambil keputusan bahwa negara kita harus berkompromi dengan Covid-19, yaitu dengan cara hidup berdampingan dengan Covid-19. Hidup berdampingan yang dimaksud adalah dengan menerapkan new normal atau tatanan kehidupan normal baru. Yang dimaksud new normal adalah kita akan melakukan aktivitas seperti sedia kala, tetapi ada sedikit perbedaan yaitu kita harus selalu memperhatikan dan melaksanakan protokol kesehatan, seperti sering cuci tangan, memakai masker saat keluar rumah, menjaga jarak atau mengurangi kontak fisik dengan orang lain dan sering membersihkan atau mencuci barang-barang yang biasa kita gunakan.

Kebijakan new normal, yang akan diterapkan di beberapa daerah mulai awal Juni 2020 ini, merupakan langkah pemerintah Indonesia untuk memulihkan perekonomian yang kian memburuk. Rilis data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Indonesia berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan I-2020 terhadap triwulan I-2019, tumbuh hanya sebesar 2,97 persen (y-on-y). Pertumbuhan ini melambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan I -2019 yang sebesar 5,07 persen. Dibandingkan triwulan sebelumnya, yaitu triwulan IV-2019, PDB triwulan I -2020 mengalami penurunan (kontraksi) sebesar2,41 persen. Melihat data ini pasti pemerintah khawatir akan terjadi krisis ekonomi yang lebih parah lagi. Apalagi dari Januari-Mei ini sudah cukup banyak orang yang kehilangan pekerjaannya akibat di-PHK oleh perusahaan dan kebijakan-kebijakan yang menghambat kegiatan perekonomian mereka.

Mengacu pada langkah yang diambil pemerintah pusat, Pemerintah Kota Ternate juga berencana akan menerapkan kebijakan tersebut dalam waktu dekat. Rencana yang akan diambil menuai cukup banyak kontra di kalangan masyarakat. Siapkah pusat keramaian di Maluku Utara ini menerapkan kebijakan tersebut?

Ternate Masih Termasuk Daerah Zona Merah

Mulai 1 Juni 2020, sebanyak 102 daerah zona hijau akan menerapkan new normal untuk memulihkan kondisi perekonomian daerahnya, setelah mendapat kewenangan dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pusat. Izin ini diberikan pastinya karena daerah-daerah tersebut sudah mampu membendung atau mengontrol penambahan kasus positif Covid-19. Berbeda kasusnya dengan daerah-daerah tersebut, penambahan kasus positif Covid-19 di Kota Ternate masih cukup signifikan. Terlebih lagi menurut para akademisi, puncak pandemi ini di Maluku Utara diperkirakan akan terjadi pada pertengahan Juni 2020. Kondisi sekarang merupakan fase awal transmisi lokal. Dari rilis data Gugus Tugas Perceptatan Penanganan Covid-19 Maluku Utara, jumlah positif Covid-19 Kota Ternate sebanyak 52 kasus pada 17 Mei 2020 dan bertambah menjadi 92 kasus pada 30 Mei 2020. Itu berarti dalam waktu dua minggu terjadi penambahan sebanyak 40 kasus, atau rata-rata sekitar tiga kasus per hari, dimana penambahan kasus-kasus baru tersebut kebanyakan tercatat setelah hari raya Idul Fitri. Melihat padatnya penduduk Kota Ternate dan masih tingginya intensitas pergerakan masyarakat, dikhawatirkan kasus positif ini akan terus bertambah.

Penerapan New Normal Tanpa Persiapan yang Matang Bisa Berakibat Fatal

Memang dilema untuk mempertahankan kondisi tetap seperti ini atau mengembalikan aktivitas masyarakat agar perekonomian cepat bangkit. Tantangan dan ancaman yang akan dihadapi pasti sangat besar. Seperti kita ketahui, sampai sekarang vaksin Covid-19 belum ditemukan sehingga hanya orang yang memiliki imunitas bagus yang bisa sembuh jika terpapar virus ini. Sangat berbahaya apabila new normal diterapkan saat vaksin virus ini belum ditemukan, apalagi jika masih banyak masyarakat yang tidak memperdulikan protokol kesehatan.

Menurut penulis ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menerapkan new normal ini. Pertama, pemerintah harus mengedukasi masyarakat terlebih dahulu terkait new normal apabila akan menerapkannya. Jangan sampai ada salah paham di masyarakat. Dikhawatirkan justru ada yang menganggap dengan adanya kebijakan new normal ini berarti mereka sudah aman dari ancaman virus ini. Kedua, sarana dan prasarana kesehatan harus dipersiapkan. Pemerintah harus menyiapkan tambahan rumah sakit untuk rujukan, ruang perawatan dan ruang isolasiCovid-19. Sampai sekarang rumah sakit rujukan Covid-19 hanya di RSUD Chasan Boesoerie. Bahkan rumah sakit ini merupakan satu-satunya rumah sakit rujukan untuk seluruh kabupaten/kota lain di Maluku Utara. Sangat dikhawatirkan jika terjadi lonjakan kasus positif Covid-19 rumah sakit ini tidak sanggup menampung para pasien. Jangan sampai seperti kejadian di Wuhan dan Brasil, dimana banyak sekali pasien yang tidak dapat terlayani sehingga banyak yang meninggal. Ketiga, perlu ada kebijakan dari pemerintah yang mengatur aktivitas masyarakat. Misalnya mewajibkan masker sebagai atribut yang dikenakan saat beraktivitas di luar rumah, dan memberikan sanksi jika tidak menggunakannya, seperti tilang motor jika pengendara motor sepeda tidak menggunakan helm.

PSBB Sebelum New Normal

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) belum pernah diterapkan di Kota Ternate, tetapi new normal isunya sudah akan di terapkan. Jika berkaca ke daerah-daerah lain di Indonesia dan luar negeri, hampir semua dari meraka yang mengambil kebijakan new normal sudah melewati fase PSBB terlebih dahulu. Saat penambahan kasus Covid-19 sudah bisa ditekan, mereka baru menerapkan new normal. Seharusnya Kota Ternate juga demikian, terapkan PSBB sembari menyiapkan semuanya. Bentuk mental dan karakter masyarakat sehingga lebih disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan dan lebih bersabar sampai vaksin virus ini ditemukan. Siapkan regulasi yang tepat, sehingga bisa membuat masyarakat patuh. Penerapan new normal bukanlah ajang balapan. Tidak semua daerah memiliki kondisi yang sama terkait tingkat penyebaran virus ini. Jadi memang harus dipertimbangkan secara matang lagi. Bukan karena di daerah lain sudah menerapkan new normal, di sini juga harus segera diterapkan. Yang tepatlah yang akan berhasil, bukan hanya yang cepat.[]

Komentar

Loading...