Wabah, Anjing, dan Kita

Oleh:
M. Kubais M. Zeen
Editor dan Penulis Freelancers

Tahun 1925, musim dingin paling parah berdurasi dua puluh tahun masih menusuk, membekukan. Penduduk di Nome, kota mungil terpencil di Alaska, Amerika Serikat terputus akses, diterpa wabah difteriinfeksi bakteri yang menyerang hidung dan tenggorokan. Akibat musim itu juga, tak ada persediaan serum. Antiracun difteri ini ada di Nenana, 1.085 kilometer dari Nome. Jika tak diobati dengan serum, para dokter meramalkan tingkat kematian 100 persen, 10.000 jiwa penghuni Nome akan tinggal kenangan.

Jalan satu-satunya untuk mengambil serum dengan kereta salju. Pada 24 Januari, Badan Kesehatan Nome membentuk 20 tim yang menggunakan anjing jenis huskies Siberia. Badan Pos negeri Paman Sam juga menyediakan 20 anjing yang biasa diandalkan mengangkut surat di wilayah sekitar Alaska.

Anjing huskies Siberia dipilih mengangkut serum di Nenana dengan kereta salju karena Tuhan menganugerahinya banyak kelebihan dibanding anjing biasa, di kampung-kampung. Di antaranya, lari tercepat di atas jarak 16 kilometer. Kumisnya (vibrissae) dapat mengetahui perubahan aliran udara, juga berfungsi sebagai sensor yang disebut tylotrich pads lebih banyak. Dari buah pengembangan yang efekif, huskies mampu mengambil keputusan tercepat navigasi untuk transportasi aman melintas salju dan es. Upaya penyelamatan nyawa manusia ini dinamai Nome serum run, lari serum Nome. Keseluruhan rute jalur Badan Pos memakan waktu 25 hari, sedangkan di musim dingin selama dan separah itu, serum hanya berlangsung enam hari. Maka tim harus menempuh jarak Nome-Nenana pergi-pulang di bawah enam hari.

Sepekan setelah terbentuk, tim menapaki medan bersalju rawan longsor dan badai, es membeku yang sekali waktu retak, membahayakan. Suhu dingin yang dapat mematikan. Kesalahan navigasi bisa berakibat fatal, tergeletak di dalam jurang. Di antara tim tersebut, ada dua huskies yang paling terkenal, Balto dan Togo. Balto memimpin anjing yang dikendalikan Gunnar Kaasen, Togo oleh Leonardo Seppala. Dua hari sebelum antiracun itu kadaluarsa, tim Togo diamuk badai salju saat melintasi kawasn es tak stabil, Norton Sound. Saat tim Togo selamat dari badai, posisi mereka dengan Nome masih sekitar 146 kilometer. Tim Balto justru mengangkut serum ke Nome hanya setengah hari. Nyawa manusia yang terkapar difteri pun tak melayang. Tanpa kesampingkan peran penting huskies lain dalam tim, Balto ditasbihkan sebagai hero dalam Nome serum run. Di Central Park, New York, patung Balto berbahan perunggu, kokoh hingga kini. Film animasinya sudah saya pelototi di layar kaca beberapa tahun lalu. Berjubel pula catatan dan artikel mengenainya, termasuk di BBC News yang saya permak seperlunya itu.

Kini, tak ubahnya di Nome, kehidupan manusia terasa gulita, mencekam. Covid-19 yang muncul di Wuhan, Negeri Tirai Bambu, begitu cepat menyebar, menembus batas-batas geografis dan kedaulatan negara. Wabah ini menjadi salah satu momok menakutkan dalam sejarah manusia di planet yang sudah tak ramah karena tangan-tangan manusia sendiri.
Banyak nyawa manusia telah melayang. Tak sedikit pula dalam penanganan dan pengawasan tim medis, yang daftarnya terus bertambah nyaris setiap hari. Para ilmuan masih berpeluh di laboratorium untuk menemukan vaksin Covid-19.

Seperti negara-negara lain, bangsa kita juga menguras energi besar: pikiran, tenaga, materi, dan merogoh pos-pos tertentu APBN serta APBD. Pembatasan interaksi sosial antarsesama manusia bukan pelanggaran hak asasi manusia, tetapi salah satu cara yang dipandang efektif mengerem laju sebar Covid-19. Pekerjaan kantor dibereskan di rumah, sambil menjaga keluarga, diri, dan lingkungan. Gugus tugas percepatan penanganan pandemik itu dibentuk hingga di semua daerah. Pihak keamanan (Polisi dan TNI), jurnalis, kaum intelektual, cendekiawan, tokoh agama, sejumlah wakil rakyat dan politisi, pengusaha, pekerja sosial, perusahaan tertentu, juga tak diam. Di setiap bandara bertaraf internasional maupun bukan, upaya mensterilakan penumpang tak henti dilakukan. Mereka berpeluh seakan tak kenal waktu.

Kendati demikian, banyak aral melintang. Sebagian penduduk berkepala batu: menggelar acara keluarga, ngopi di warkop dan cafe, menyemuti pusat perbelanjaan, nongkrong di taman kota, menendang si kulit bundar di lapangan tertutup dan terbuka, pelesir. Doyan menyebar informasi hoax di media sosial. Masker di-langka-kan untuk mengeruk rupiah berlipatsuatu praktik hukum ekonomi dan pasar yang paling licik, jauh dari terapan teori ilmu yang dirintis ilmuan zaman dahulu. Manusia-manusia semacam ini jadi bagian dari masalah kemanusiaan. Ruang isolasi pasien terbatas di tengah daftar pasien terus bertambah, membuat pemerintah pening mencari gedung perkantoran, atau hotel, penginapan, dan losmen yang memadai untuk menopang. Fasilitas uji sampel darah pasien masih bergantung pada Jakarta, tak hanya memusingkan tenaga medis, pasien pun stres. Di rumah sakit sangat terbatas alat pelindung diri (APD) bagi tim medis, yang hanya sekali digunakan karena berinteraksi langsung dengan pasien.

Laksana pribahasa, “tak ada rotan, akar pun jadi, jas hujan murahan tak bermutu terpaksa digunakan, sekalipun tenaga medis itu tahu sungguh sangat tak aman bagi keselamatan dirinya. Juga keluarga dan orang-orang yang berinteraksi dengan mereka. Fasilitas-fasilttas tersebut tak mungkin diatasi penduduk berpendapatan rendah. Maka, alangkah eloknya jika politisi, pejabat, dan terutama penguasa modal yang belum siuman, mengulurkan tangan-tangan kemanusiannya. Sebab, “barang siapa menyelamatkan satu nyawa manusia, sama dengan menyelamatkan kemanusiaan(QS Al-Maidah:32). Menyelamatkan manusia, oleh Quraish Shihab dimaknai bahwa semua manusia adalah mahluk sosial, yang tak mungkin hidup sendiri. Dan, setiap manusia, kata Thabathabai, menyandang nilai-nilai kemanusiaan. Kalaupun masih enggan, egois, kikir, atau takut harta berkurang, malu-lah pada anjing-anjing huskies Siberia yang mempertaruhkan keselamatan diri bahkan nyawanya, demi menyelamatkan manusia yang terpapar wabah mematikan, 95 tahun lalu. Sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat sebanyak-banyak bagi orang banyak, demikian petuah Nabi Muhammad Saw. (**)

Komentar

Loading...