SOFIFI-PM.com, Tim juri Sayembara Cipta Logo STQ Nasional XXVI di Provinsi Maluku Utara Tahun 2021 resmi menetapkan satu logo karya anak daerah yang akan digunakan pada STQ nanti.
Penetapan dilakulan setelah salah satu dari 59 peserta yang mengikuti lomba logo STQ Nasional tahun 2021 dengan tema sayembara Islam dan budaya moloku kie Raha, dipilih.
Makbul A.H Din, Ketua tim juri Sayembara Cipta Logo STQ Nasional ke XXVI Tahun 2021, didampingi tiga anggota juri saat menyampaikan keterangan pers mengatakan, lomba sayembara cipta logo ini dibuka secara umum, sebanyak 59 peserta yang mendaftarkan hasil karya logo STQ Nasional di Provinsi Malut tahun 2021 ini, dari 59 ini seleksi menjadi 14 logo hasil karya peserta, kemudian tim juri menyeleksi lanjutan menjadi empat logo.
“Empat hasil karya peserta cipta logo itu pertama Ujang Bagindo Asal Kabupaten Morotai, Teguh Prasongko asal Cipinang Jakarta Timur, Muchilis Mandati Asal Kota Ternate dan Aldy Rizaldi Amarullah asal Kabupaten Pangkajene Sulsel,”ungkapnya.
Makbul menuturkan, empat logo hasil karya peserta yang ditetapkan juri dilihat dari keunikan logo, orisinil, baru, menarik, berkarakter, mewakili ciri dan indentitas daerah serta mudah diingat.
“Hasil presentasi, tim juri menetapkan hasil karya peserta sayembara cipta logo STQ atas nama Muchilis Mandati sebagai pemenang, dan ditetapkan sebagai Logo pelaksanaan STQ Nasional ke XXVI di Malut pada Oktober 2021 mendatang,”ungkapnya.
Logo STQ Nasional tahun 2021, kata Makbul akan dilaunching pada bulan depan di Jakarta, sehingga 34 provinsi di Indonesia dapat menghadiri, namun jika dilaunching di Ternate maka dapat disaksikan secara virtual oleh provinsi di luar Malut.
”Launcing logo STQ Nasional ke XXVI di Malut tahun 2021 tergantung pada Pemprov Malut,”bebernya.
Logo STQ Nasional ini, kata sekertaris MUI Provinsi Malut terdapat beberapa simbol, dimana mesjid kesultanan Ternate, selain itu terdapat burung bidadari yang merupakan salah satu burung ada di Halmahera dan tidak ada di daerah lain Indonesia maupun dunia, selain itu terdapat tulisan Arab diatas atap mesjid yang bertuliskan Iq’ra artinya bacalah bukan hanya Al Qur’an, namun membaca kehidupan sosial, budaya dan lain-lain sebagainya.
Dari logo tersebut dapat dimaknai filosofi Masjid Kesultanan sebagai kepala dari burung bidadari dengan bentuk masjid yang terdiri dari empat atap, empat pintu, empat sayap kanan dan kiri dan empat hiasan sayap dibagian belakang yang menggambarkan empat moloku kie Raha atau empat kesultanan Islam dan budaya Islam yang ada di Malut.
Kemudian kata Makbul simbol burung bidadari ini melambangkan keindahan. Burung bidadari juga salah satu hewan paling menawan, indah suaranya dan mengagumkan bagi sebagian orang seperti pada STQ, salah satu penilaian mengutamakan keindahan suara dalam membaca Al-Qur’an,
Selain itu tulisan STQ pada logo sebagai kaki dari burung bidadari yang menjadikan penopang atau tumpuan bagi generasi muda Islam Malut dalam mempertahankan budaya membaca Al-Qur’an.
“Gambar dari keseluruhan logo menggambarkan Kuba Masjid yang merupakan simbol bahwa Islam memberikan kesempatan untuk kreatif dan menggambarkan kreativitas orang dalam berbagai seni, salah satunya seni membaca Alquran,”bebernya.(iel/red)

Tinggalkan Balasan