poskomalut, Panitia pelaksana pelantikan dan rapat kerja wilayah (Rakerwil) Ikatan Alumni Abna Alkhairaat (IKAAL) Provinsi Maluku Utara menggelar rapat persiapan di Sekretariar Komwil, Kalumpang, Ternate, Kamis malam (22/1/2026).

Rapat tersebut membahas sejumlah agenda di antaranya pematangan teknis dan substansi kegiatan pelantikan pengurus serta agenda rakerwil yang akan digelar dalam waktu dekat.

Ketua Panitia Pelaksana, Zahra Hanafi, yang memimpin rapat itu menyampaikan bahwa keanggotaan alumni dalam grup koordinasi panitia ditentukan langsung oleh ketua wilayah terpilih. “Semoga istiqomah,” ujar Zahra.

Ketua Wilayah IKAAL Maluku Utara, Muhammad Abusama, mengatakan amanah yang diembannya merupakan kepercayaan untuk kedua kalinya.

Ia menegaskan perjuangan alumni harus dilandasi keikhlasan demi kemajuan Alkhairaat.

“Pada prinsipnya, kita berjuang dengan ikhlas untuk Alkhairaat. Insya Allah setiap aktivitas kita membawa keberkahan,” kata Abusama.

Ia menekankan bahwa IKAAL tidak terbatas pada struktur kepengurusan semata. Menurut dia, tanggung jawab membesarkan Alkhairaat melekat pada seluruh alumni tanpa kecuali.

“Alkhairaat bukan hanya tanggung jawab yang ada di struktur. Semua alumni punya tanggung jawab yang sama,” ujarnya, mengutip prinsip perjuangan Guru Tua bahwa jiwa, raga, dan harta diabdikan untuk Alkhairaat.

Abusama juga mengingatkan pentingnya keterlibatan aktif alumni, bukan sekadar menjadi pengamat atau pengkritik dari kejauhan.

IKAAL, kata dia, harus menjadi ruang bersama yang menghimpun seluruh alumni lintas generasi, perempuan dan laki-laki, dari remaja hingga orang tua.

Dalam rapat itu disepakati pelantikan pengurus baru IKAAL Maluku Utara akan dilaksanakan pada 10 Ramadan 1447 Hijriah, bertepatan dengan 28 Februari 2026.

Pelantikan direncanakan dirangkaikan dengan buka puasa bersama sebagai upaya memperkuat kebersamaan antaralumni.

Sementara itu, Dewan Pembina IKAAL Maluku Utara, Adam Marus, menyoroti kondisi Alkhairaat dari sisi kelembagaan.

Secara sosiologis, kata dia, Alkhairaat masih memiliki pengaruh kuat di tengah masyarakat. Namun dari aspek kualitas dan daya saing pendidikan, posisinya kian tersaingi.

“Dulu Alkhairaat Kalumpang dianggap miniatur Maluku Utara,” ujar Adam mengenang.

Ia menilai perlu ada upaya serius untuk menggaungkan kembali peran Alkhairaat, termasuk gagasan pendirian universitas Alkhairaat di Maluku Utara.

Menurut Adam, momentum kepengurusan baru harus dimanfaatkan untuk melibatkan seluruh alumni dalam merumuskan arah masa depan Alkhairaat.

“Pengurus baru harus punya semangat baru dan pola pikir baru,” katanya.

Adam mendorong pendataan kembali tokoh-tokoh strategis Alkhairaat, seperti Ustaz Yahya Misbah, Thaha Abdul Wahab, dan Prof. Gufran Ali Ibrahim, agar pemikiran dan pengalaman mereka dapat menjadi rujukan dalam penyusunan program.

Di era digital, ia menegaskan pentingnya optimalisasi media massa dan media sosial sebagai sarana promosi kegiatan serta penguatan citra institusi Alkhairaat.

Selain itu, keterlibatan aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan, termasuk penanganan bencana, dinilai penting untuk menjaga relevansi organisasi.

Adam juga mengkritik minimnya publikasi atas berbagai kegiatan alumni. Padahal, menurut dia, banyak alumni Alkhairaat yang berkiprah sebagai pendiri media dan jurnalis.

“Mereka harus dilibatkan supaya kegiatan bisa terpublikasi secara luas,” tandasnya.

Ia bahkan mengusulkan pemanfaatan Radio Republik Indonesia (RRI) sebagai ruang dialog publik dengan menghadirkan tokoh-tokoh Alkhairaat.

Pandangan tersebut disepakati Muhammad Abusama.

Ia menilai media dan media sosial merupakan dua entitas strategis yang tak bisa diabaikan dalam memperkuat gerakan dan eksistensi IKAAL ke depan.

Mag Fir
Editor