MOROTAI-PM.com, Publik pecinta bola Morotai mempertanyakan tuntutan sejumlah tim sepak bola yang bertanding di piala Bupati CUP II Tahun 2021. Pasalnya, sejumlah tuntutan yang beredar di media massa itu semuanya diarahkan ke panitia. Misalnya terkait desakan ganti perangkat pertandingan dan soal ganti rugi tim yang ditunda waktu pertandingannya.
“Ada beberapa tim yang melakukan tuntutan kepada panitia, publik Morotai pecinta bola mau pertanyakan perkembangannya sudah sejauh mana,” tanya Zan, salah satu penonton setia pertandingan Bupati CUP II kepada media ini, Minggu (6/2/2022).
Hanya saja, kabar bahwa tuntutan sejumlah kesebelasan yang masuk putaran V kepada panitia Bupati CUP II, ternyata tidak lagi diakomodir. Salah satunya tim kesebelasan dari Old Star. Tim tersebut tidak lagi menuntut panitia untuk mendiskualifikasi Adiyaksa FC. Ini setelah pada putaran ke IV, tim Adiyaksa dinyatakan kalah melawan Darpan FC.
Begitu juga dengan tim dari Basanohi FC. Tim yang bermarkas di Kabupaten Kepulauan Sula itu awalnya menuntut agar panitia tidak lagi mengakomodir perangkat pertandingan yang tinggal di Morotai, misalnya wasit maupun hakim garis lantaran dianggap berbuat tidak profesional dan merugikan Basanohi FC.
Selain itu, terdapat dua kesebelasan Persida Weda dan Perseda Daeo juga menuntut ganti rugi kepada panitia terkait akomodasi mulai dari tiket pemain asing dan lokal.
Kedua tim itu tidak lagi membuat tuntutan lantaran masalah tersebut sudah diralat saat rapat bersama di kantor Polres Morotai beberapa malam lalu.
“Segala tuntutan baik Old Star, Basanohi, Persida dan Perseda itu gugur lantaran waktu rapat di kantor Polres Morotai malam itu,” ungkap salah satu panitia kepada media ini beberapa waktu lalu.
Selain itu, terdapat beberapa poin dalam kesepakatan rapat yang dianggap menjadi masalah selama ini.
“Soal protes di lapangan juga diatur, soal keamanan dan lainnya,”katanya.
Hanya saja, kesepakatan itu pihaknya merasa sangat dirugikan karena pertandingan sepak bola Bupati CUP II tidak sesuai dengan aturan PSSI.
Sebelumnya, dua tim kesebelasan penghuni group neraka (C), yakni Persida Weda FC dan Perseda Daeo FC sangat merasa dirugikan dengan keputusan panitia Bupati CUP II Morotai yang tidak melanjutkan pertandingan untuk kedua. Penundaan pertandingan itu berakibat langsung terhadap pengeluaran anggara untuk dari kedua tim. Akibatnya, mereka menuntut kepada panitia untuk segera bertanggungjawab mengganti uang yang telah dikeluarkan kedua tim.
Bahkan, berdasarkan rincian anggaran yang disampaikan kedua keseblasan, maka panitia harus mengganti Rp38 juta dengan perincian Rp26 juta untuk Persida Weda dan Rp12 juta bagi Perseda Daeo.
Rahmat Rifai, salah satu pemain Persida Weda ketika dikonfirmasi sejumlah awak media mengaku, bahwa berdasarkan jadwal pertandingan, pihaknya bermain melawan Perseda Daeo. Hanya saja, panitia tidak melanjutkan pertandingan. Dengan demikian, pihaknya sangat merasa dirugikan dari sisi anggaran.
“Yang jadi masalah itu beberapa pemain dari luar yang kita bawah. Saya juga harus dibayar perhari, ganti rugi honor harus dibayar karena ini tong (kami) pe (punya) jadwal main, kalau dibatalkan konsekwensi anggaran empat orang itu anggaran fantastislah,” akunya.
Hal yang sama juga disampaikan manager Perseda Daeo, Almukaram Goraahe. Menurutnya, pihaknya juga sangat dirugikan dengan tidak jelasnya pertandingan itu. Apalagi, Perseda Daeo juga mendatangkan pemain dari luar, dengan demikian mulai dari biaya transportasi, makan, tempat tinggal dan sewa pemain juga besar. Olehnya itu, panitia harus mengganti biaya dimaksud.
“Kami merasa dirugikan soal ganti rugi 1 kali main itu 12 juta, makanya kami tuntut harus diganti,” tuntutnya.


Tinggalkan Balasan