“Sudahkah engkau melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai Tuhannya? Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?” (Q.S. Al-Furqan:43).

Hari ini, dalam ruang sosial, kita melihat bahwa seberapa banyak ibu dan ayah, yang menginginkan anaknya menjadi manusia yang dikenal dan dipandang orang. Bukan untuk diri mereka. Tapi, agar anaknya tidak seperti mereka yang kekurangan dalam segala hal. Baik dalam ekonomi, relasi sosial, pendidikan, dan lain sebagainya.

Tapi, di sela-sela riuhnya dunia dan bisingnya peran kekuasaan, ada sebagian ayah yang masih menjalankan kewajibannya untuk menyekolahkan anaknya. Di bawah terik matahari, ia berjalan menyusuri debu-debu
yang disapu bersih angin, tapi badannya yang kurus serta kulitnya dibungkus dengan sebuah baju yang mampu dibakar panas terik matahari. Ia tak perduli seberapa besarnya badai atau hujan yang datang menghampiri, baginya rintangan sebesar apapun ia tetap melawan.

Namun, kadang harapan itu tertahan karena waktu yang terbuang. Bukan karena malas, juga panas. Bukan pula hujan ataupun badai, tapi karena penyakit, sakit yang menghalang perjalanan suci itu.

Tapi, hari ini, harapan itu kadang menjadi persoalan, ketika pendidikan menjadi simbol dan realita menjadi kedok para kepentingan. la tidak lagi bermusuhan dengan waktu, bukan lagi dengan panas, tapi bertikai dengan birokrasi, bermusuhan dengan para pemimpin yang mempunyai kepentingan kelompok.

Dan, hal itu sering kita temui dalam dunia kampus, khususnya di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. Dalam hati yang sunyi, Kyai Ahmad Dahlan melawan pemberontakan kemiskinan serta penindasan terhadap kaum bawa, sehingga lahirnya sebuah wadah, sebuah rumah. Muhamadiyah.

“Hidup, hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup dalam Muhammadiya” kalimat ini sebagai simbol cinta yang dalam hening untuk menegakkan “Amar ma’ruf nahi munkar”.

Namun penerusnya menjadikan amal usaha sebagai ladang kekayaan serta kepentingan untuk mencari hidup dalam Muhammadiyah.
Mahasiswa dituntut kreatif, tapi mereka takut mahasiswa kritis. Sebab, mahasiswa yang kritis bagi mereka adalah telah melahirkan serigala.

Masa pelantikan menjelang 1-2 bulan, Muhammadiyah seakan berada dalam kuburan yang tak bernyawa.

“Hari ini ketika kita mempertanyakan cita- cita Al-Quran untuk menciptakan sebuah masyarakat Indonesia yang bermoral, Muhammadiyah masih saja berada di awal jalan”.

Bahkan, mahasiswa sendiri takut mengritik persoalan kebijakan yang dilakukan oleh seorang pemimpin. Secara akademik, soal intelektual adalah hak bagi setiap manusia, untuk mendapatkan pengetahuan dan pendidikan yang lebih baik. Namun, instruksi yang hari ini berada dalam ruang akademik kampus Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, benar-benar kebijakan iblis yang sengaja dibuat-buat demi kepentingan.

Anehnya, akademisi bahkan mahasiswa sendiri menutup mata, entah apa masalahnya, takut akan nilai? Ataukah persoalan kepentingan gelap? Perlu untuk kita mengkaji lebih jauh bahwa, pendidikan itu fungsinya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa bukan melarang mencerdaskan kehidupan dalam menelan pengetahuan.

Mempertanyakan persoalan pembungkaman, padahal jelas bahwa, aspirasi, lapak baca, adalah wadah agar mahasiswa dapat berekspresi melalui hal-hal tersebut. Tapi hari mahasiswa internal kampus tidak diperbolehkan membuka lapak baca di area kampus.

Dalam penenunan kata itu, jelas bawa gelap dalam melihat realitas sosial dan kebijakan yang sengaja ditutupi, pertanyaannya, apa alasan sehingga pembelaan terhadap kebijakan birokrasi kampus tersebut?

Saya sepakat dengan apa yang disampaikan Nietzsche, dalam buku Agama Cinta, Agama Masa Depan, (John D. Caputo: 2013.70), bahwa Tuhan telah mati dalam kaum intelektual dan memilih persekongkolan dengan iblis.

Pertanyaannya, apakah Rektor telah mengalami kegilaan dalam ruang sosial?

“Iblis tidak bisa membuat neraka menjadi indah, oleh karena itu dia mempercantik jalan menuju ke sana”, (Jalaludin rumi: abad ke.13).

Honor atau gaji para dosen di tahan dengan alasan yang tidak jelas, apa ini bukan satu kebijakan palsu yang sengaja dibuat?
Kampus adalah rumah, tempat manusia memulai dan mengakhiri karier serta impiannya.

Rektor harus melihat serta memperbaiki fasilitas kampus yang sudah tidak layak untuk dihuni, salah satunya adalah Toilet, jaringan internet, perpustakaan dan ruang belajar yang layak, bukan membungkam pengetahuan.

Kampus bukan kuburan, kampus bukan ruang kosong, kampus adalah ruang sosial bagi manusia yang berpikir. Hermann Hesse berkata bahwa, “Burung berjuang keluar dari telur. Telur adalah dunia.

Barang siapa ingin dilahirkan, ia harus menghancurkan sebuah dunia, Die Geschichte einer Jugend, (1919). Artinya, pada dasarnya pikiran rektor hari ini masih dibelenggu dan terpenjara dalam ruang yang gelap.[]