“Tak perlu seseorang yang sempurna. Cukup temukan seseorang yang membuatmu bahagia, dan merasa lebih berarti dari siapa pun.”— BJ. Habibie.
Dalam film “Love in Disguise,” seorang penyanyi bernama Du Ming-Han hidup di puncak kemasyhuran: popularitas, kekayaan, dan gonta ganti pacar. Namun, di tengah gemerlap itu, ia merasa hidupnya hampa dan sulit dijelaskan.
Untuk menemukan kembali kebahagiaannya, sang superstar memilih menyamar sebagai orang biasa. Bersama sahabat musisinya, Wei Zhi-Bo, ia meninggalkan citra selebritas: mengenakan rambut palsu, kacamata bening, pakaian sederhana, dan nama baru Joe.
Mereka kemudian mendaftar sebagai mahasiswa conservation music di East Music Academy. Di kampus ini, Joe bertemu dengan Xiaoqing, gadis bersahaja dan tenang yang mahir memainkan Guzheng—alat musik tradisional Tiongkok.
Perlahan, persahabatan mereka tumbuh menjadi lebih dari sahabat. Joe merasa telah menemukan sesuatu yang selama ini hilang dalam hidupnya: cinta yang tidak berpijak pada ketenaran, kemewahan, dan pesona tubuh. Cinta yang menerima, memahami, dan menjaga.
Joe menyadari, sesungguhnya ia tak pernah benar-benar lapar akan kemasyhuran, melainkan lapar akan cinta yang tulus.
Di kehidupan nyata, cinta sering kali tampil dengan wajah muram. Berita-berita kekerasan atas nama cinta terus bermunculan. Ada yang tega menyakiti pasangan karena cemburu. Ada yang kehilangan harga diri demi mempertahankan hubungan yang rapuh. Ada pula yang mengakhiri hidup karena cinta yang tak sampai.
Media sosial setiap hari dipenuhi parade romantisme: potret mesra yang dipoles sedemikian rupa, kalimat-kalimat puitis yang mengejar perhatian, hingga pengakuan cinta yang kadang lebih menyerupai pertunjukan ketimbang ketulusan.
Begitulah cinta bekerja dalam kehidupan manusia: dapat menghidupkan, tetapi juga melumpuhkan. Bisa menjadi mata air yang menenangkan, namun dapat berubah menjadi api yang membakar akal sehat.
Cinta pada hakikatnya tidak pernah lahir untuk menyakiti. “Cinta itu restu Tuhan. Kenapa harus terluka dalam cinta?” kata Shah Rukh Khan kepada Anuska Sharma dalam film Rab Ne Bana Di Jodi. Yang melukai bukanlah cinta itu sendiri, melainkan manusia yang mencampurkan cinta dengan ego, hasrat memiliki, dan nafsu kuasa.
Psikolog sosial Erich Fromm dalam The Art of Loving menyebut cinta sebagai sebuah seni. Cinta bukan sekadar perasaan yang datang karena keberuntungan, melainkan kemampuan yang menuntut kedewasaan, disiplin, pengetahuan, dan keberanian untuk memberi diri secara utuh.
Fromm mengritik psikolog Sigmund Freud yang memandang cinta hanya bertumpu pada pemuasan seksual atau kepentingan material. Baginya, cinta semacam itu hanyalah ilusi individualistik yang pada akhirnya melahirkan keterasingan manusia modern.
Cinta sejati, menurut Fromm, hanya dapat tumbuh ketika seseorang mampu mencintai dengan kerendahan hati, tanggung jawab, keteguhan, dan kesediaan menerima orang lain sebagai manusia seutuhnya.
Pandangan itu seakan bergaung dalam kata-kata sufi besar Jalaluddin Rumi yang dikutip sastrawan Elif Shafak. “Jangan bertanya cinta macam apa yang harus kau cari—spiritual atau material, ilahiah atau duniawi, timur atau barat. Perpecahan hanya melahirkan perpecahan baru. Cinta tidak memiliki label. Ia murni dan sederhana.”
Pada akhirnya, cinta yang paling agung ialah cinta yang memanusiakan manusia. Cinta yang tidak menindas, tidak mempermalukan, tidak merusak kehormatan, tidak menjadikan tubuh sebagai objek, atau kesetiaan sebagai barang mainan.
Cinta semacam itu membuat manusia merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri. Ia tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kehadiran. Tidak membelenggu, melainkan menumbuhkan. Sebab cinta bukan neraka kehidupan, tapi mata air yang membuat kehidupan layak diperjuangkan.
Karena itu, barangkali yang paling penting bukanlah mencari siapa yang paling pantas dicintai, melainkan belajar bagaimana mencintai tanpa kehilangan kemanusiaan kita sendiri. ***



Tinggalkan Balasan