Tak sekadar 99 buku yang dipamerkan dalam peluncuran Festival Buku. Di balik karya-karya itu, ada gagasan, kegelisahan, pengalaman, dan keberanian para penulis Maluku Utara untuk meninggalkan jejak melalui tulisan.
Dalam sambutan singkatnya, Ketua ICMI Maluku Utara, Dr. Kasman Hi. Ahmad, menyampaikan bahwa sebenarnya penulis di Maluku Utara telah mencapai hampir 200 orang. Namun, dalam festival ini, jumlah tersebut diringkas menjadi 99 penulis, seperti Asmaul Husna.
“Seperti Asmaul Husna,” begitu kira-kira ungkapan Pak Kace, sapaan akrab Kasman Hi. Ahmad, saat membuka festival buku yang dipelopori ICMI, Faduli Buku, Jakofi Pustaka, dan LP3ES tersebut.
Bagi saya, festival buku bukan sekadar tempat transaksi jual beli lembaran kertas yang berisi cerita. Jauh lebih dari itu, festival buku adalah ruang untuk merayakan karya, tempat bertemunya ide-ide besar, sekaligus bukti bahwa literasi masih memiliki tempat yang hangat di tengah gempuran konten serba instan.
Kehadiran 99 penulis dalam satu panggung menjadi pengingat bahwa inspirasi tidak pernah lahir dari satu sudut pandang. Setiap penulis membawa pengalaman, pemikiran, dan cerita yang berbeda. Semuanya menjadi bagian dari kontribusi anak negeri dalam merawat pengetahuan dan kebudayaan.
Saya meminjam istilah Bang Herman: menulis buku mungkin tidak membuat kita kaya. Tetapi menulislah, karena tulisan bisa menjadi sesuatu yang abadi.
Kehadiran para pegiat literasi juga memberi warna baru yang luar biasa. Dari 99 penulis itu, semoga lahir spirit baru bagi generasi muda Maluku Utara.
Sebab, dalam festival buku, kita tidak hanya belajar bagaimana merangkai kata. Kita juga belajar tentang keberanian untuk menuangkan isi kepala dan menyampaikan gagasan.
Ada penulis fiksi yang mengajarkan kita merawat empati melalui imajinasi. Ada penulis nonfiksi yang mengajak kita memahami realitas secara kritis. Ada pula penyair yang mengingatkan bahwa kesederhanaan rasa pun bisa menjadi sesuatu yang indah ketika dituangkan dalam kata.
Keragaman itu memberi pesan penting: setiap orang memiliki cerita yang unik dan layak didengar.
Bagi pembaca, terutama calon penulis muda, kehadiran 99 karya ini bukanlah akhir dari perjalanan. Justru sebaliknya, ia bisa menjadi langkah awal untuk melahirkan karya-karya berikutnya.
Di era digital yang serba cepat dan instan, ketika interaksi manusia kerap terasa dingin di balik layar, festival buku menghadirkan kembali sentuhan humanis dari sebuah karya.
Bertemu langsung dengan penulis, mendengarkan proses kreatif mereka, mengetahui kisah di balik lahirnya sebuah buku, hingga berdiskusi tentang gagasan yang dituangkan di dalamnya, menciptakan ikatan emosional yang sulit digantikan oleh sekadar membaca unggahan di media sosial.
Festival buku akhirnya menjadi ruang untuk merayakan rasa ingin tahu.
Karena itu, kehadiran 99 penulis dalam festival ini bukan sekadar ajang menjual atau memamerkan karya. Di balik 99 buku tersebut, ada pesan moral bahwa gagasan anak negeri akan selalu hidup selama kita mau merawatnya.
Maluku Utara membutuhkan lebih banyak ruang seperti ini. Ruang yang membuat orang berani membaca, berani berpikir, dan terutama berani menulis.
Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam Festival Buku ini. Semoga ikhtiar kecil dalam merawat literasi menjadi amal kebaikan sekaligus menyalakan spirit kebaikan bagi generasi berikutnya. Sebab pada akhirnya, buku boleh selesai ditulis, tetapi gagasan di dalamnya tidak pernah benar-benar selesai.


Tinggalkan Balasan