poskomalut, Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Takome, Kota Ternate, menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Maluku Utara.
Gubernur Sherly Tjoanda menyarankan penataan ulang pengelolaan TPA, termasuk pembangunan saluran pembuangan gas untuk mengantisipasi kebakaran serupa.
Usulan itu disampaikan Sherly saat meninjau lokasi kebakaran bersama Wakil Gubernur Maluku Utara, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Ternate, serta sejumlah instansi terkait, Kamis (15/10/2026).
Dalam penanganan kebakaran, sekitar 350 personel gabungan dikerahkan. Mereka didukung empat mobil pemadam kebakaran, dua mobil tangki air yang direncanakan mendapat tambahan dua unit, lima truk dump truckmilik Pemerintah Kota Ternate, serta satu unit mobil pemadam dari PT ANTAM Tbk.
Ekskavator juga dikerahkan untuk membantu penanganan tumpukan sampah. Sementara itu, PT Sampoerna Tbk memberikan bantuan masker untuk melindungi petugas dan masyarakat dari paparan asap.
Saat menanyakan penyebab kebakaran, Sherly mendapat penjelasan bahwa api diduga berkaitan dengan gas yang terperangkap di dalam tanah akibat cuaca panas.
Menurut Sherly, kondisi ini menjadi perhatian untuk membenahi tata kelola TPA ke depan, terutama dalam mengantisipasi penumpukan gas yang berpotensi memicu kebakaran.
“Ke depan harus ditata supaya ada saluran pembuangan gas,” ujarnya.
Selain pemadaman, dampak asap terhadap kesehatan warga juga menjadi perhatian.
Dinas Kesehatan dijadwalkan membuka posko kesehatan pada Jumat (16/10/2026), dengan menyediakan oksigen, multivitamin, serta layanan pemeriksaan kesehatan gratis.
Sherly mengatakan, kepulan asap mulai berkurang meski langit di sejumlah wilayah masih tampak kelabu.
Ia menyebut informasi arah angin yang diperoleh dari BMKG menunjukkan pergerakan dari timur ke barat.
Menurutnya, asap dari kebakaran di wilayah lain, termasuk Papua, juga berpotensi memengaruhi kondisi udara di Maluku Utara.
Dampak asap turut mengganggu aktivitas penerbangan akibat terbatasnya jarak pandang.
Sherly menyebut jarak pandang saat itu berada di bawah 2.000 meter, sedangkan kebutuhan jarak pandang untuk mendukung keselamatan penerbangan disebut mencapai sekitar 3.800 meter.
Ia mengaku telah berkomunikasi dengan Menteri Perhubungan dan mengusulkan kajian sistem instrumen navigasi bandara untuk membantu pilot melakukan pendekatan saat jarak pandang terbatas. Usulan tersebut masih dalam tahap kajian.
Sherly berharap kondisi angin dan kualitas jarak pandang segera membaik agar sebaran asap berkurang dan aktivitas penerbangan kembali normal. (SRI).


Tinggalkan Balasan