TERNATE-PM.com, Akademisi Universitas Khairun Ternate, Mukhtar Adam menghimbau Gubernur Provinsi Maluku Utara (Malut), Adul Ghani Kasuba, agar berani mengambil langkah tegas, menetapkan satu titik pintu ekspor untuk semua komoditas, bukan hanya tambang.
Hal ini disampaikan Mukhtar Adam saat Forum Discussion Group (FGD) yang dilaksanakan Bea Cukai Cabang Ternate, Kamis (13/02/2020). Menurutnya, persoalan industri tambang, terlalu kuat negosiasinya ke Jakarta, sehingga Gubernur tidak punya power untuk menekan.
Maluku Utara dalam 10 tahun terakhir dominasi ekspor masih di sektor pertambangan, dan masing-masing sektor tambang masih menggunakan pelabuhan ekspornya masing-masing, akibatnya tidak bisa membuat subtitusi ekspor prodak yang lain.
“Misalnya yang terbaru pada tahun 2019 ini ada satu negara tujuan ekspor terbaru yaitu India melalui kayu olahan mebel, tetapi itu hanya bisa dilakukan beberapa kali dan tidak bisa dikakukan secara continue,” ujar Mukhtar.
“Kita butuh kualitas Gubernur yang bisa berdiri menetapkan, bahwa hanya ada satu pintu eskpor untuk industri tambang. Kita bisa melihat satu pelabuhan yang bisa efektif, sekarangkan ada ekspor keluar dari Obi, Halteng, Haltim dan Halut, pecahan itu kalau mau gabung memang agak sulit,” ungkapnya.
Jika mengekspor cengkeh hanya dengan satu kontener, maka tidak akan mungkin menggerakan pelabuhan Ternate, tetapi kalau ada ekspor banyak dengan tujuan negara tertentu, pasti akan bisa.
Gubernur harus memfasilitasi dan duduk bersama untuk berbicara soal ekspor, sehingga Malut juga tidak kalah. Pasalnya, Gubernur harus menyadari bahwa Malut sudah menjual sektor tambang, maka saatnya pala, cengkeh, kopra, ikan juga harus di ekspor, tetapi satu pintu.
“Kita butuh kekuataan Gubernur untuk memfalitasi dan memfeto negara melalui pemerintah pusat, untuk menambahkan kekuatan ekonomi. Apalagi, Presiden Jokowi sudah memberikan sinyal,” tandasnya. (cha/red)



Tinggalkan Balasan