Tukang Jahit di Ternate Tolak Rencana Tarif Lapak Dinaikkan

Lapak Gamalama, Kota Ternate, Maluku Utara.

TERNATE-pm.com, Rencana Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Ternate naikkan biaya retribusi lapak mendapat penolakan dari tukang jahit dan pedagang pakaian.

Kurang lebih 60 tukang jahit pakaian di pasar Gamalama, Kelurahan Gamalama, Ternate Tengah, Kota Ternate mengeluh adanya kebijakan kenaikan tarif retribusi tersebut.

Pasalnya, tarif yang bakal dinaikkan Disperindag Kota Ternate cukup tinggi, atau dua kali lipat dari harga retribusi awal.

Salah satu tukang jahit, Mahmud Jakaria ditemui awak media mengatakan, informasi rencana dinaikkan tarif retribusi sudah pada awal tahun 2024, namun ditolak.

Selanjutnya, Disperindag kembali merencanakan kenaikan. Namun belum ada sosialisasi terlebih dahulu.

Namun begitu kata dia, para pemilik lapak tetap menolak jika tarif dinaikkan.

Mahmud menyebutkan tarif retribusi awal Rp670.000 per bulan untuk lapak lantai satu, rencananya dinaikan menjadi Rp1.220.000

Sementara lapak lantai dua per bulan Rp620.000 dan ingin dinaikkan menjadi Rp1.080.000.

Ia menjelaskan, para pedagang sudah rapat dan bertemu dengan Disperindag, hasilnya akan dipertimbangkan.

“Namun, belum dijaminkan apakah masih tetap membayar retribusi seperti semula atau sudah naik. Katanya itu adalah perintah dari pimpinan, jadi mungkin itu perintah dari wali kota,” ujarnya.

Senada, Janani Ismail, salah satu pedagang pakaian mengatakan, kenaikan tarif retribusi merugikan para pedagang. Sebab, pendapatan mereka sangat berkurang.

Menurutnya, setalah pedagang tukang jahit dipindahkan ke pasar Gamalama, banyak masalah yang ditemukan, mulai dari akses masuk hingga kurangnya pelanggan.

“Kalau torang (kami) di Gamalama dulu (sebelum dipindahkan) itu pendapatan lumayan. Dan torang tara (tidak) pernah tunggak bayar lapak, tapi saat dipindahkan ke sini, torang bautang bayar lapak, karena memang pendapatan parah sekali,” ungkapnya.

“Jadi kalau mau kase naik harga lapak lagi torang mau bayar deng cara bagimana?,” tanya Janani.

Lebih lanjut dirinya menyebutkan, banyak lapak Gamalama yang kosong atau tak terisi, karena ditinggal pedagang.

Sehingga itu, jika Disperindag tetap ngotot naikkqn tarif, maka mereka kompak mengosongkan lapak Gamalama.

Komentar

Loading...