SOFIFI-PM.com, Pemprov Malut berencana pengadaan Laboratorium pemeriksaan spesimen. Rencana pemprov Malut tersebut setelah mendapat usulan dari pihak Rumah Sakit untuk pembangunan laboratorium swab. Untuk biaya sendiri, Pemprov Malut belum bisa memastikan, tergantung dari penawaran dari alat yang dibeli. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Pengolahan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Bambang Hermawan kemarin (5/5).
Menurutnya, ada enam ruangan yang akan disiapkan, satu ruangan untuk perawatan dengan tekanan yang negatif, kasus pemberatan dan satu ruangan untuk Laboratorium di ruangan yang direhab yang sudah ada di RSUD.
Lanjut Bambang, anggaran yang dirancang untuk pengadaan laboratorium sekitar Rp 7 miliar. Anggaran tersebut diambil dari hasil realokasi sebesar Rp 148 miliar. Ini karena anggaran Rp 7 miliar yang sebelumnya dirancang untuk pengadaan ventilator namun tidak dapat dilaksanakan sebab ventilator sudah mendapat sumbangan dari NHM sehingga tidak mungkin membeli lagi. Oleh karena anggaran rencana pengadaan ventilator dialihkan untuk pengadaan Laboraterium.
“Yang pasti kita tidak membangun bangunan baru tetapi hanya merehab ruangan yang sudah ada. Mungkin ada enam ruangan yang akan disiapkan, satu ruangan untuk perawatan dengan tekanan yang negatif, kasus pemberatan dan satu ruangan untuk Laboratorium di ruangan yang direhab yang sudah ada di RSUD,” katanya.
Dia mengatakan, wabah coronavirus (Covid-19) ini adalah darurat sehingga sudah langsung pengadaan. “Inikan situasi darurat, karena sekarang sudah 50 kasus. Jadi nanti Dinas kesehatan yang melakukan rapid test, sedangkan RSUD pengadaan Laboratorium pemeriksaan swab sehingga kita bisa mendiri tidak harus ke Makassar dan Manado karena sekarang pesawat tidak ada, kan repot kirim specimen,” jelasnya.
Dengan kendala tersebut, dia berharap jangan melihat dari besar kecilnya anggaran tetapi prosesnya. Menurutnya, jumlah anggaran Rp 7 miliar tersebut nanti dikaji lagi. Dia mencontohkan, rehab ruangan menjadi tekanan negative awalnya penawaran Rp 800 juta satu ruangan dan khusus Laboraterium pengajuan Rp 1 miliar lebih.
Sekarang setelah konfirmasi lagi harganya masih sisa Rp 200 juta lebih, artinya harganya flukuatif. “Yang jelas tidak ada upaya untuk memperkaya. Meski begitu sudah ada pendalaman tinggal teknisinya akan datang. Kita sudah menandatangani SPBB nanti kalau datang diuji setelah itu tandatangan kontrak dan langsung dibayar,” pungkasnya. (iel/red)



Tinggalkan Balasan