poskomalut, Praktik dugaan manipulasi progres pekerjaan proyek di Provinsi Maluku Utara kembali terjadi.
Kali ini terjadi pada proyek Jembatan Ake Busale di ruas jalan Saketa-Dehepodo yang dikerjakan orang dekat Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos.
Pihak rekanan diduga merekayasa data laporan capaian fisik untuk mencairkan dana diketahui setelah pengajuan pembayaran termin satu dengan pencapaian pekerjaan sebesar 41 persen senilai Rp950.520.179 pada 29 Juni 2026.
Padahal kondisi lapangan progres baru di kisaran 20-30 persen. Proyek ini sebelumnya terhenti di tengah pengerjaan sejak akhir Mei 2026.
Proyek di Desa Cango, Kecamatan Gane Barat, Halmahera Selatan, ini dikerjakan CV Wosso Mobon dengan pola pinjam pakai bendera.
Sejumlah fakta menyebut, perusahaan ini digunakan Faisal Anwar alias Opo yang dikenal sebagai “orang dekat” Gubernur Maluku Utara.
Opo juga disebut-sebut sebagai pihak atau pengendali proyek.
Direktur CV Wosso Mobon, Reza Buang dihubungi Rabu (9/7/2026) enggan merespons.
Terpisah, Kepala BPKAD Provinsi Ahmad Purbaya dikonfirmasi ihwal pencairan mengatakan “Nanti saya cek dulu.
Dikutip Voicemu.com, Reza mengakui adanya permintaan pembayaran termin I 41 persen.
Ia menyebut, permintaan pembayaran tersebut sesuai progres pekerjaan.
Reza mengatakan, progres 41 persen tersebut terhitung dari MC-0 sampai progres terakhir, termasuk tulangan abutmen, pengecoran tiang sumuran.
“Pencapaian progres ini saya presentasikan ke dinas sebelum permintaan pembayaran termin. Hitungan ini sesuai tim rekap data internal kami,” ujarnya, Rabu, 8 Juli 2026.
“Sebenarnya ini bukan termin I, tapi termin II. Karena termin I itu saat pencairan uang muka 30 persen,” sambungnya.
Reza juga mengaku pekerjaan Jembatan Ake Busale sempat macet. Menurutnya, proyek yang dikerjakan itu terhenti lantaran beberapa pertimbangan.
Salah satunya menunggu hasil laboratorium soal kualitas beton.
“H-3 iduladha itu pekerja minta supaya pulang lebaran dulu, dan mereka diberikan waktu empat hari. Namun setelah empat hari, om bas minta tambahan waktu satu minggu karena ada hajatan di rumah, makanya pekerjaan terhenti. Tapi sekarang so mulai kerja lagi,” jelasnya.
Di sisi lain, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Jembatan Ake Busale, Chairil Yamin Marabessy dihubungi via gawai tidak tersambung.
Sebelumnya, salah satu warga setempat mengaku tidak mengetahui persis kenapa aktivitas konstruksi pekerjaan senilai Rp3,311 miliar itu mandek.
Kendati begitu, warga yang meminta namanya tidak disebutkan ini menduga, macetnya progres proyek tersebut karena ketidakmampuan rekanan.
“Su lama dong tara kerja. Kalau tidak salah itu terhitung masuk-masuk lebaran iduladha kemarin. Sampe skarang tidak ada aktifitas di lokasi, pekerjanya pun su tara muncul,” ujarnya, Minggu, 28 Juni 2026.
Warga ini mengatakan pekerjaan belum menunjukan progres berarti atau sekitar 15 sampai 20 persen.
Yang tampak di lokasi, kata dia, hanya pengecoran tiang sumuran dan persiapan abutmen sebagai konstruksi dasar.
Pengakuan serupa disampaikan warga Cango lainnya. Warga yang meminta tidak perlu memberitakan namanya ini menambahkan, para warga mendesak kontraktor pelaksana proyek agar segera melanjutkan pekerjaan.
Menurutnya, terhentinya pekerjaan ini tidak hanya merugikan warga dan mengganggu akses jalan. Aktifitas masyarakat sekitar juga ikut terganggu akibat macetnya pengerjaan proyek.
“Kalau ini dibiarkan dalam waktu yang lama, jembatannya berpotensi tidak selesai, karena kapan dilanjutkan pun kami sebagai tidak tahu,” sambungnya.



Tinggalkan Balasan