SOFIFI-PM.com, Kabar baik bagi petani kopra, pala dan cengkih di Maluku Utara (Malut). Ini karena, Komisi IV DPR RI sedang membahas standar harga komoditas pertanian. Salah satu, alternative untuk perbaikan ekonomi petani kopra, pala dan cengkih adalah pemerintah sedikit mengintervensi harga menjadi stabil, atau jika terjadi penurunan harga tidak terlalu jauh.

Hali ini disampaikan anggota Komisi IV DPR RI daerah pemilihan (dapil) Maluku Utara Alien Mus, Senin (3/8). ”Harga komoditas cengkih, pala, kopra dan coklat, perlu ada regulasi terkait dengan standar harga terhadap komunitas kita. Pemerintah perlu punya standar harga terhadap komoditas kita. Wanaca ini sudah dibahas di komisi IV DPR RI, bahkan sudah dalam bentuk resume,” kata Alien.

Mantan Ketua DPRD Provinsi Malut ini mengungkapkan, standar harga komoditas ini perlu direalisasikan sehingga masyarakat petani tidak dirugikan. Jikalau terjadi penurunan harga, misalnya harga kopra satu kilo Rp 15 ribu, jika terjadi penurunan sampai diangka Rp 7 ribu per kilogram. Begitu juga dengan komoditas lain. ”Perlu ditetapkan standar harga. Dengan begitu. jika terjadi penurunan harga, itupun tidak signifikan,” katanya.

Ketua DPD Partai Golkar Malut itu mengaku bahwa jika ini diberlakukan, maka masyarakat petani kita tak perlu khawatir lagi atas harga komoditas mereka. Sebab, sudah mengetahui batas penurunan harga komuditas kopra, cekih, pala dan coklat. ”Saya yakin jika ada standar harga, masyarakat petani kita legah dan tidak merasa khawatir, jadi kita berdoa saja supaya rencana komisi IV DPR RI berjalan lancar,” pintanya.

Selain itu, adik kandung dari mantan Bupati Kepulauan Sula (Kepsul) Ahmad Hidayat Mus (AHM) itu mengaku, untuk  harga sembako di Malut masih sangat normal, dan tidak mengalami kenaikan, meskipun saat ini diperhadapkan dengan wabah coronavirus (Covid-19). ”Alhamdulillah, saya (Alien Mus, red) pantau harga sembako di Malut masih stabil, bahkan gula pasir sempat naik, tapi sudah ada turun,” ungkapnya.

Ia menambahkan, di Malut saat ini meskipun lahan terbuka masih luas, namun kebutuhan lain berupa barito masih tergantung di daerah lain. “Jadi kalau stok di daerah penghasil berkurang, maka berpengaruh juga harga. Kedepan, perlu kita dorong disektor pertanian,” pungkas Alien. (iel/red)