SOFIF-PM.com, Pemerintah provinsi (Pemprov) Malut akhirnya menerbitkan rekomendasi buat PT IWIP untuk penanganan banjir di area perusahaan.
Kurang lebih empat poin rekomendasi dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) provinsi untuk perusahaan, yaitu pertama; pihak perusahaan segera melakukan kajian teknis terhadap pengalihan sungai Sake sebagaimana dalam dokumen AMDAL. Kedua; perusahaan harus membuat manajemen air sungai Sake dan disampaikan ke DLH Malut.
Pada poin tiga; DLH meminta kepada perusahaan harus membuat sediment pond atau kolam endap di areal sungai Sake atau kolam yang dirancang untuk mengendapkan bahan-bahan padat dari air buangan tambang (air tercemar oleh tanah dan bahan padat lainnya). Dan keempat; perusahaan juga harus membuat studi analisis banjir.
“Peta manajemen air yang digunakan itu milik PT WBN, sedangkan punya IWIP belum ada,” ujar penyidik lingkungan DLH Malut H Yusra Noho saat dikonfirmasi wartawan via telepon dua hari lalu. Menurutnya, banjir yang terjadi di PT IWIP pada awal bulan lalu diduga disebabkan karena adanya pengalihan sungai sake tanpa kajian teknis dari pihak perusahaan.
Padahal, kata dia pihak perusahaan berjanji sebelum pengalihan sungai Sake akan dilakukan kajian teknis, namun yang terjadi tidak ada kajian teknis. “Kalau ada kajian teknis dapat diketahui, bisa dilakukan pengalihan sungai atau tidak jika bisa berapa luas semisal drainase itu untuk menampung debit air saat cura hujan tinggi,” ungkapnya.
”Dalam dokumen AMDAL dijelaskan, lokasi tersebut memang sering terjadi banjir, tapi tidak separah yang terjadi beberapa waktu itu. Banjir ini disebabkan ada kegiatan lain di daerah, hasil turun ke lapangan ternyata ada salah satu sungai Sake yang dialihkan tanpa kajian teknis,” katanya.
Selain itu, kata Yusra di sekitar sungai Sake juga terdapat kegiatan pembukaan lahan sehingga pada saat curah hujan tidak lagi diserap ke dalam tanah, dan langsung mengalir ke sungai Sake akibatnya debit air sebakin banyak, ditambah beberapa anak sungai juga mengalir ke sungai Sake. “Sekitar sungai Sake juga terdapat ada beberapa anak sungai yang mengalir ke sungai Sake. Selain itu, ada kegiatan pembukaan lahan diatas sungai Sake,” katanya.
Penyebab lain, tanah dilokasi itu kata dia, bisa disebut tanah rawa sehingga daya serap air itu kurang. Sementara, pihak perusahaan tidak memiliki manajemen air terhadap sungai Sake. “Peta manajemen air yang digunakan itu milik PT WBN, sedangkan punya IWIP belum ada,” bebernya. (iel/red)



Tinggalkan Balasan