Islam menurut istilah bermakna sebagai penyerahan diri, ketundukan dan kepatuhan terhadap perintah Allah SWT. Serta pasrah menerima dengan puas terhadap ketentuan dan hukum-hukum agama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw untuk disampaikan kepada umatnya. Segala bentuk perintah dan larangan serta ketentuan – ketentuan yang harus ditaati dan dipatuhi, sudah dipaparkan pada Al-Qur’an dan Al Hadist sebagai pedoman bagi umat Muslim.
Islam merupakan agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat Indonesia, meskipun dalam sejarah masuknya Islam di nusantara mendapat banyak hambatan serta rintangan. Sebelum masuknya agama Islam di nusantara, sudah ada agama Hindu lebih dulu menempati posisi sebagai salah satu agama yang muncul di Nusantara. Pada abad-14, Wali Songo, yang berperan sebagai juru dakwah Islam berhasil membalikkan keadaan. Sebelumnya, peradaban Hindu, Budha dan berbagai aliran kepercayaan lainnya yang condong lebih berpengaruh. Semuanya berubah pada abad-14.
Di abad ke-14 pula menjadi penanda bahwa agama yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW dapat diterima oleh masyarakat, ditandai dengan kemunculan berbagai kerajaan Islam di Nusantara. Seiring berkembangnya ajaran agama Islam, ada sosok seorang pemuda desa yang melihat perilaku masyarakat penganut ajaran Islam tidak sesuai dengan yang ada dalam Al-Qur’an.
Masyarakat pada zaman itu masih dominan dengan ajaran agama yang diajarkan oleh para leluhur, seperti sesajen yang diberikan sebagai penyembahan terhadap sang kekuatan tertinggi kekuatan gaib, dengan harapan akan mendapatkan kehidupan yang tentram dan rejeki berlimpah. Melihat situasi dan kondisi seperti ini, sosok pemuda desa yang kerap disapa Muhammad Darwis, seorang pemuda yang memiliki tekad sangat besar ingin mengubah semua kepercayaan serta ajaran dari leluhur yang sudah melenceng jauh dari Al-Qur’an dan Al Hadist untuk kembali ke ajaran agama Islam yang sebenar – benarnya.
Muhammad Darwis, datang ke rumah pamannya Kyai M.Fadlil, untuk mendiskusikan mengenai keyakinan dan ajaran yang ada di lingkungan tempat tinggal Kyai M.Fadlil, juga sependapat dengan Muhammad Darwis. Mereka berdua tidak setuju dengan ajaran agama Islam yang diyakini oleh masyarakat Yogyakarta.
Kesimpulan hasil diskusi Muhammad Darwis dan Kyai M.Fadlil, maka Muhammad Darwis berkeinginan untuk pergi ke Mekkah untuk memperdalam ilmu agama. Berusia masih belasan tahun itu ia mendapatkan persetujuan kedua orang tua untuk pergi ke Kota Mekkah. Selama memperdalam pengetahuan di Mekkah, Muhammad Darwis diajarkan oleh seorang guru besar yaitu Shaikh Bakri As Syatha, yang merupakan salah satu ulama besar dari mazdhab Safi’I yang bermukmi di Mekkah.
Sepulang dari Makkah, Muhammad Darwis, meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk menggantikan sebutan nama menjadi Ahmad Dahlan, sebagai bekal nama yang diberikan oleh gurunya di Makkah, untuk berdakwah. Hal itu disetujui oleh kedua orang tua.
Beberapa hari setelah kepulangan K.H Ahmad Dahlan dari Makkah, ia memiliki kegelisahan terkait arah kiblat Masjid Gede Kauman, yang tidak mengarah tepat ke arah Kiblat. Pola pikir masyarakat mengenai ritual keagamaan masih mencampuradukkan unsur-unsur budaya dan kepercayaan lokal lainnya. Pemikiran K.H Ahmad Dahlan tentang gerakan islam modern yang didapatkan di Makkah dengan berbagai konsep pembaharu, juga mempengaruhi dirinya.
K.H Ahmad Dahlan, membuat sebuah Langgar Kidul untuk dijadikan sebagai tempat kajian bagi murid-muridnya, dan menjadi awal mula spirit perjuangan untuk mengubah ajaran agama Islam yang masih primitif atau lokal, menuju ke ajaran Islam modern yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Al-Hadist.
Pada tahun 1898 silam, upaya menggantikan arah kiblat Masjid Gebe Kauman, yang dilakukan oleh murid K.H Ahmad Dahlan, berdampak pada Langgar Kidul yang dibuat tersebut. Para para kiyai terdahulu, pengurus masjid dan para penghulu murka, karena arah kiblat yang sebelumnya digantikan oleh murid K.H Ahmad Dahlan, dengan penanda garis putih menurut mereka salah. Setelah mendengarkan perbincangan para Kiyai dan juga K.H Ahmad Dahlan, mereka menganggap bahwa apa yang dijelaskan oleh K.H Ahmad Dahlan itu benar. Sebab, penjelasannya dilakukan dengan dasar rasionalisasi. Penjelasannya dengan menggunakan peta sebagai pedoman untuk dipapakarkan dalam perbincangan hangat malam itu.
Namun, semuanya tidak berbuah indah terhadap upaya yang dilakukan oleh muridnya itu. Langgar Kidul, yang dibangun K.H Ahmad Dahlan, kemudian dibakar oleh masyarakat karena dianggap sebagai suatu tempat perkumpulan radikal dalam ajaran agama Islam.
Radikal berasal dari kata “radix”yang berarti akar. Dalam konsep pemikiran radikal dapat diartikan sebagai sebuah pemikiran atau gagasan mengenai suatu persoalan, sehingga dapat menyentuh hingga aspek yang paling mendasar. Para jama’ah pengajian Langgar Kidul, murid-murid serta keluarga hanya bisa pasrah melihat kondisi tersebut sambil menahan isak tangis.
Dengan segala ketekunan dan ketabahan tidak membuat tekad seorang pembaharu islam ini surut. Ia semakin gencar melakukan gerakan dakwah Islam modern. K.H Ahmad Dahlan bahkan sempat berdiskusi dengan teman-temannya yang bernaung dalam organisasi Budi Utomo, kala itu, Berkat tekad yang begitu besar ia kemudian membangun sebuah organisasi bernama Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi gerakan dakwah Islam, dengan tujuan menghilangkan ajaran – ajaran Islam yang masih melenceng jauh dari Al-Qur’an dan Al- Hadist. (Abdul Wali Kusno; K.H. Ahmad Dahlan, Nasioanlisme dan Kepemimpinan Pembaharu, Islam Tanah Air yang Menginspirasi; cetakan pertama thn 2020)
Pada 18 November 1912, sampai sekarang organisasi Muhammadiyah yang didirikannya itu dapat bertahan dengan kokoh dan sudah memiliki banyak kader berintelektualitas tinggi. Juga sebagai salah satu organisasi yang memberikan sumbangsi besar bagi nusantara. Sebagian besar masyarakat Indonesia, juga sudah mengikuti ajaran agama yang didakwah-kan oleh K.H Ahmad Dahlan, sesuai Al-Qur’an dan Al-Hadist. Dalam perjalananya, persyarikatan dengan konsep dakwah dan pendidikan ini juga melahirkan banyak ortom. Salah satunya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), yang lahir pada 14 Maret 1964 silam. Organisasi yang sudah melahirkan ribuan kader-kader terbaik ini, secara internal tentunya sudah banyak membantu gerakan dakwah Muhammadiyah sebagaimana cita-cita Sang pencerah. Juga sebagai representasi naluri dan gagasan dengan prinsip nilai kemanusiaan menuju jalan kebajikan. Selamat Milad IMM ke-57;14 Maret 1964-14 Maret 2021. “Membumikan Gagasan, Membangun Peradaban.” Bangga Ber-IMM. Fastabiqul Khairat. **



Tinggalkan Balasan