WEDA-pm.com, Kinerja Perusahaan Daerah Fagogoru Maju Bersama (Perusda FMB), milik Pemda Halteng menuai sorotan sejumlah pihak.

Sejak dilantiknya Madjid Husen sebagai direktur utama bersama Dua rekannya, Gawi Abas dan Subhan Ahmad oleh Mantan Bupati Halteng, Edi Langkara pada 9 September 2021, harapanya dapat mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD), namun nyatanya sumbangsi Perusda FMB tidak terlihat sama skali.

Ketua Komisi II DPRD Halteng, Ahlan Djumadil mengatakan, Perusda semestinya mempunyai bisnis plan dan lebih giat berusaha agar bisnis yang dikembangkan dapat bermanfaat untuk daerah.

“Di setiap tahun dalam dokumen APBD Halteng ada penyertaan modal untuk Perusda, tetapi tidak direalisasi. Soal realisasi atau tidak itu menjadi kewenangan pemerintah daerah,” tuturnya, Rabu (13/9/2023).

“Minggu lalu juga sudah ditetapkan Perda tentang penyertaan modal ke Perusda. Semoga dengan Perda baru management Perusda dapat lebih bergiat untuk berusaha agar bisnis yg dikembangkan dapat bermanfaat untuk daerah ini,” sambungnya.

Ahlan menyatakan, Pemda Halteng harus terlebih dahulu melakukan analisis kelayakan, nalisa portofolio dan resiko sebelum penyertaan modal.

“Saya ingin sampaikan bahwa, sebelum pemberian penyertaan modal ke Perusda, Pemda Halteng haruslah melakukan sejumlah analisis tadi,” tandasnya.

Terpisah, Direktur Utama (Dirut) Perusda FMB, A. Madjid Husen, mengatakan konsep master plan bisnis Perusda yang dipimpinanya sudah siap, namun kondisi keuangan daerah yang belum memungkinkan, sehingga pemerintah daerah masih fokus pada program prioritas lainnya.

“Sejak dilantik selalu aktif membangun komunikasi dengan para mitra kerja Perusda yang siap bekerjasama antara lain, PT Mustika Pratama Mining, PT Sumber Alam Kreasi dan PT Wijaya Karya Konstruksi,” tuturnya.

Ia menambahkan, di bidang hauling (pengangkutan Ore Nikel), sudah sampai pada tahap survey lokasi untuk mengecek secara langsung lokasi penambangan. Kegiatan survey melibatkan, tim dari PT Weda Bay Nikel, PT IWIP Tim, ketiga perusahaan mitra kerja dan Perusda.

“Dari hasil survey yang dilakukan dan beberapa kali rapat pembahasan yang melibatkan pemerintah daerah, Management PT IWIP dan PT Weda Bay Nikel dapat disetujui untuk kerjasama hauling Or Nikel sebesar 1.8 juta metrik ton yang akan dikerjakan ketiga perusahaan atau kontraktor mitra kerja Perusda,” katanya.

“Namun demikian pihak kontraktor mengajukan penawaran, yang dianggap terlalu tinggi oleh pihak Weda Bay Nikel dan IWIP, sehingga dibatalkan,” sambungnya.

Lanjut Madjid menambahkan, saat ini sudah ada mitra kerja atau kontraktor yang sudah siap bekerjasama dengan Perusda di bidang hauling.

“Sehingga dengan demikian perubahan APBD 2023 untuk pertama kalinya dianggarakan penyertaan modal Perusda sebesar Rp3 milia. Insya Allah pada tahun anggaran 2024 ada perhatian pemerintah daerah untuk penambahan penyertaan modal kepada Perusda dalam upaya untuk peningkatan PAD,” pungkasnya.