poskomalut, Proyek peningkatan jalan hotmix Wilayah II Halteng di Desa Nurweda, Weda, diduga dikerjakan asal jadi.
Pekerjaan yang dikerjakan PT Garuda Satria Langit terindikasi menggunakan alat berat tandem roller dan bomag untuk pemadatan tidak sesuai standar teknis.
Proyek dengan nilai kontrak sebesar Rp30 miliar tersebut melekat sekaligus di bawah pengawasan Dinas PUPR Halmahera Tengah.
Informasi yang dihimpun poskomalut, bahwa alat pemadatan aspal seharusnya memiliki berat standar 6 hingga 10 ton.
Tak hanya itu, ketebalan aspal juga diduga kuat disengajakan pihak teknis perusahaan di bawah Labrosko Grup itu demi menekan biaya pekerjaan demi keuntungan lebih besar.
“Alat berat yang digunakan dalam proyek jalan hotmix ini tidak sesuai standar, dugaan kuat ada unsur kesengajaan,” ungkap salah satu sumber kepada poskomalut di Weda, kemarin.
Ia menjelaskan, tandem roller memegang peran vital dalam proses pengaspalan. Fungsinya meratakan sekaligus memadatkan hamparan aspal agar struktur jalan benar-benar kuat dan tahan lama.
dirinya menyebut, jika alat ini digunakan di luar standar, kualitas jalan dipastikan jauh dari ketentuan.
“Kalau alat berat saja tidak sesuai ketentuan, otomatis kualitas jalan tidak akan kuat,” ujarnya.
Dirinya menambahkan, hal tersebut tak lepas dari kelalaian Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dari dinas terkait.
“Karena PPK jalan hotmix ini sempat menjadi PPK juga di proyek peningkatan jalan hotmix di Desa Wairoro Indah yang dikerjakan CV Kokoya Insland,”bebernya.
Hingga berita ini diterbitkan, PPK maupun direktur teknik rekanan belum memberikan keterangan atas dugaan penyimpangan itu.


Tinggalkan Balasan