MABA-PM.com, Polemik antara Sekretaris Daerah (Sekda) Halmahera Timur (Haltim), Ricky Chairul Ricfhat dan Kepala Dinas Parwisata, Hardi Musa terkait aset wisata Pulau Plun kian memanas.

Pasalnya, Kadis Pariwisata Haltim, Hardi Musa menegaskan dirinya tidak akan pernah meminta maaf kepada Sekda Haltim terkait kata “biadap” yang dilontarkan kepada Sekda Haltim.

“Saya tidak akan minta maaf terkait dengan bahasa “biadap” yang diungkapkan kepada sekda terkait dengan polemik aset Pulau Plun,” tegas Kadis Parwisata Hardi Musa, saat dikonfirmasi, Rabu (18/08/2021) kemarin.

Seharusnya, kata dia, sebagai pimpinan, Sekda Haltim harus tahu cara komunikasi birokrasi lintas SKPD, sehingga bisa berkoordinasi dengan baik.

“Jangan langsung asal bicara lalu dimuat dalam berita atau media online. Seharusnya sebagai pimpinan harus melakukan komunikasi linstas SKPD apabila ada temuan di lapangan. Jangan langsung bicara sabarang (sembarangan) atau bikin diri (sok tahu) semua,” ungkapnya dengan nada kesalnya.

“Kerugian hingga Rp7 miliar, itu Sekda Haltim dapat datanya dari mana. Karena setahu saya kerugian hanya mencapai Rp300 juta dan sudah ditindaklanjuti,” sambungnya.

Hardi mengaku, adanya polemik ini secara tidak langsung ada sinyal tendensi politik di dalamnya.

“Jadi kita bisa menilai bahwa situasi seperti ini bisa dinilai adanya tendensi politik,” tukasnya.

Sebelumnya, hal yang memicu kemarahan Kadis Pariwisata adalah pernyataan Sekda Haltim terkait aset Pulau Plun yang berkisar Rp 7 miliar dibiarkan terbengkalai dan tidak terurus.

Penulis : Ikam|Editor : Qofath