SOMBAR
(Solidaritas Mahasiswa Bacan Raya). Begitulah kira-kira dieja, bukan ejaan verbatim yang kelihatan lamban dan kaku. Sanyawa adalah artikulatif dari terjahitnya jiwa-jiwa di tengah heterogenitas yang tercerai dan mewujud dalam kebinekaan. Saruma = rumah, tempat disemai secara bersama. Jiwa yang tercerai lalu menyatu sebagaimana Ernest renan “state dibentuk karena berkumpulnnya beberapa kawanan yang berakal”. Itulah sombar, bukan sombar beringin tempat berkumpulnya mahluk astral kata moyang kita. Sombar adalah rumah, tempat pulang. Di situlah karakter dibentuk dan dibenturkan. Di situ sesuatu dilahirkan, merangkak, tumbuh sebagai dirinya. Keceriaan mewujud, kasih sayang dibangun, meskipun kekesalan sering mampir.
SOMBAR
Seperti yang lain, dilahirkan bukan untuk membangkang, tapi menegur para pembangkang. Bukan mempertegas fazis – isme di tengah yang lain, tapi menyatukan yang tercecer menjadi pusat kekuatan. Sedikit tidak mengapa karena Muhammad maupun Yesus, menebar rahmat dan kasih sayang dengan pengikut yang minority. Tapi ada visi di situ. Bahwa yang kecil itu memungkinkan untuk disemai, bertumbuh dan melaju. Ada nilai yang dipertahankan, ada mis fortune yang dibangun, ada eskatologis yang dituju.
SOMBAR
Dibangun bukan untuk diruntuhkan, bukan untuk mengkristalkan identity. Nasionalisme sudah pasti, tapi nasionalisme yang dihasilkan dari episentrum lokal. Bahwa di tengah nasionalisme, ada ke “lokal “an kita. Ada budaya di situ, ada adat di situ, ada kearifan di situ. Nasionalisme hanya tumbuh jika kita mencintai sesuatu yang di sini, yang ada saat ini, dilahirkan di sini dalam ruang kita saat ini. Nasionalisme yang di sana sebagai cerminan dari etno kita yang di sini.
SOMBAR
Kata di sini merujuk tempat. Indonesia timur, Maluku Utara, Bacan, gugus pulau di kaki Halmahera. Di situ tarafannur berpindah, dari tanah moyangnya Makian ke Bacan. Di pulau itu genetik mengalami proliferasi, menyebar ke Bacan Barat, timur, selatan, utara, Mandioli, Kasiruta, Botanglomang, Gane Raya, Obi. Di tanah itu pula canga, mode tapso, marimoi ngoni foturu, basabua kita marosong. Dirangkai dalam bingkai adat seatorang, menuju puncak transendensi Jou se ngofa ngare.
SOMBAR
Bakumpul,,? Bikiapa,,? Kata orang di sini. Karena sendiri adalah aku, menyatu adalah solidity. Dilahirkan sebagai pribadi yang bereksistensi. Tapi tidak cukup. Eksistensi harus dibenturkan dengan realitas. Bahwa eksistensi butuh society. Di situlah solidaritas mekanik diikat kata durkheim, hasrat dipertajam jalannya dan eksis menemukan bentuknya. Menjadi intelektual organik, bukan intelektual mekanik yang menjadi mesin kekuasaan kata Gramsci. Berkumpul bukan membebankan yang lain, tapi di situ segalanya dipertukarkan, dimuntahkan dan dituliskan bahkan diperdebatkan. Gibran pernah berkata dalam syairnya,,”Setiap kata yang terpenjara dalam ungkapan, harus dibebaskan melalui tindakan,”
SOMBAR
Mereka paham, bahwa jika sendiri ada perbedaan yang mengkarat dengan berkumpul maka perbedaan hanya biodata. Berkumpul artinya memenjarakan perbedaan, menguburkan ego. Ada pendidikan yang dialtar, diajar dan mengajarkan. Meskipun terbatas, tapi itulah spirit, semangat untuk memelihara harapan. Bahwa segalanya boleh mati dan dimusnahkan. Tapi harapan tidak boleh mati. Harapan harus disisakan untuk daur ulang ingatan dan kekuatan. Bukankah Marx meninggal sebelum cita- cita kesetaraan diduplikasi di banyak negara,? Bukankah Syariati dibunuh Savak dua tahun sebelum revolusi Iran meletus tahun 79,,? Orangnya boleh mati, tapi pemikiran terlanjur mewabah. Itulah harapan. Menjadi mahasiswa, bahkan satu langkah lebih maju. Aktivis tugasnya merawat harapan dalam ingatan. Sebagaimana ucapan Milan Kundera, Novelis kepunyaan Republik Ceko. “Perjuangan rakyat melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa ”
SOMBAR
Tumbuh bukan memilih antara sentripetal, atau sentrifugal. Independen boleh, tapi netral jangan. Ilmu pengetahuan boleh netral, tapi intelektual harus berpihak. Ilmuan dibekali hasrat menyendiri, pendiam, memikirkan dan menemukan. Bukankah Marx mengatakan, Ilmuan hanya mampu menjelaskan realitas, namun tidak mampu mengubahnya,,?
Di sinilah tugas intelektual untuk bergerak, berontak, mengubah. Sebab, tugas kaum intelektual adalah berpihak ada kalangan tertindas, kata Syariati.
SOMBAR
Mestinya hadir untuk mengubah wajah kita. Wajah kebudayaan, wajah hukum, wajah demokrasi yang sesak dengan artifisial. Dengan membawa sejumlah peralatan hermeneutik, semiotik dan dekonstruksi untuk membongkar citra. Menghancurkan realitas cermin yang semu dari wajah kita. Ibarat cermin mobil, tampaknya kecil, tapi wajah kita membesar ketika berkaca karena terlepas dari realitas sesungguhnya. Wajah realitas kita terputus antara substansi dan citra sehingga yang tampak adalah hiperrealitas. Kebudayaan citra, politik citra, hukum citra dan demokrasi citra serta yang lain yang senyawa dengan citra. Realitas yang melampaui substansi. Itulah SIMULAKRA kata BAUDILLARD.
SOMBAR
Saya tahu mereka memulai dari Ide. Entah dari siapa. Tapi seharusnya begitu. Ide memang hukumnya bekerja dalam imajiner seseorang. Lalu dipertandingkan untuk menemukan kognisinya. Ide lalu dikurung di bilik kosan oleh beberapa orang untuk dipertajam. Kosan adalah tempat paling masuk akal untuk. Sebagai simbol perjuangan, kosan identik dengan rasa lapar. Tapi mereka bukan orang miskin. Mereka anak orang berpunya. Mereka hanya mau menguji bahwa kelaparan adalah puncak dari kemarahan. Bukankah reformasi lahir karena orang lapar,,?
SOMBAR
Kami lebih dulu merasakan itu dalam bentuk yang sama tapi mewariskan pada generasi yang berbeda. Itulah potret mahasiswa, tumbuh, membiak dan besar. Tapi saatnya harus pergi atau bertahan. Karena kampus butuh dialiktika, butuh wajah baru dengan pemikiran baru. Kampus saat ini bagi kita adalah museum ingatan. Di situ pernah lahir kutu buku, orator sangar, bahkan penulis handal.
SOMBAR
Akhirnya, sekali lagi Sombar adalah tempat berteduh. Rumah besar yang mengakar. Bukan rumah singgah, tapi tempat pulang. Di situ akta kita diterbitkan dan pusara dipancang. Rumah tempat kita kembali dan basombar di dalamnya. Tempat mempertanyakan siapa kita, apa tanggung jawab intelektual kita dan kepada siapakah bergunanya hidup kita. Layaknya ungkapan Sokrates, “hidup yang tidak diselidiki adalah hidup yang tidak layak untuk ditempati “. Wassalam.



Tinggalkan Balasan