WEDA-pm.com, Tokoh masyarakat dan LSM Gele-gele memberi kritikan terhadap panitia upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-33 Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng), Selasa 31 Oktober kemarin.
Ahmad, salah satu tokoh masyarakat mengatakan, ada tahapan upcara yang dilewati, yakni Bobeto Sawai tidak dibacakan sebelum panji kebesaran (bendera pataka) diserahkan ke inspektur upacara.
“Bobeto Sawai itu tara (tidak) bisa kase hilang (dihilangkan) sebelum panji kebesaran diserahkan ke inspektur upacara,” tegas Agus, Selasa malam.
Sementara, Husen Ismail Direktur LSM Gele-gele ikut menegaskan dan meminta kepada Penjabat (Pj) Bupati Halteng agar memberikan teguran kepada panitia usai diselenggarakan acara tersebut.
Menurut Husen, Bobeto Sawai itu sifatnya bisa dijadikan sebagai dasar dalam upaya perjuangan memajukan daerah.
“Bobeto Sawai mempunyai makna yang mendalam sehingga tidak bisa dihilangkan,” pintanya
Ia menyebut Bobeto Sawai itu harus mejadi pesan yang sakral, karena memuat makna mendalam pada setiap pemimpin dan masyarakat di Negeri Fagogoru.
Husen menandaskan, makna Bobeto itu mengajarkan bahwa pemimpin sejati itu adalah ketika masyarakat yang dipimpin merasakan kesejahteraan. Termasuk masyarakat adat dapat merasa diakui, dihormati, dan berpartisipasi dalam membangun daerah.
“Lebih dalam lagi, bobeto itu mengajarkan kita untuk menjadi seorang pemimpin itu harus menyejahterakan masyarakat, termasuk masyarakat adat,” tandasnya.
Sekedar diketahui, pembacaan Bobeto Sawai untuk pertama kali dilakukan pada HUT Halteng 2007 lalu, di periode pertama Bupati Hi. Yasin Ali yang dibacakan Hi Abdul Latif Sabtu menggunakan dialeg Kobe, dan satu orang temannya menggunakan bahasa Patani.
Kemudian di 2011-2012 dibacakan Almarhum Herudin Hi. Gani, pada 2013-2014 periode kedua Hi. Yasin Ali dibacakan Iksan. Setelah itu sudah tidak pernah dibacakan lagi.
Berikut adalah Bobeto Sawai yang diterjamahkan dalam Bahasa Indonesia:
BOBETO SAWAI
Memohon Izin Para Leluhur
Untuk Menyampaikan
Sumpah Leluhur Negeri Ini
Kasiang Kampung dan Daratan
Yang Kami Cintai
Siapa Lagi yang Akan Melihat
Siapa Lagi yang akan Memperbaiki
Tidak Lain Hanyalah Kita Semua dan Orang Tua Serta Pemimpin
Untuk Itu Pada Hari Ini
Para Leluhur Kita yang Mulia
Para Leluhur yang Menjaga
Kampung dan Daratan Ini
Yang Ada Di Weda, Patani Sampai Pulau Gebe, Mari Mengiringi dan mengituki Kami
Kami Mohon Kepada Tuhan yang Maha Esa, Bagi Orang Atau Siapa Saja yang Tinggal di Daerah ini,
Mancari Hidup Juga Di Daerah Ini Dengan Berhati Kotor dan Tidak Ikhlas. Kami Meminta Orang Tersebut Tidak Tenang Dalam Kebaikan Dan Hatinya yang Kotor Menjadi Tontonan Orang Kampung.
Eee Tunjukkan Agar Kami Melihat Bukti.


Tinggalkan Balasan