Proyek Pekuburan Sangowo Rp 500 Juta Bermasalah

Proyek Yang Diduga Bermasalah

Lantaran Lahan Pekuburan tidak Dibebaskan

MOROTAI-PM, Proyek pembangunan
pekuburan umum di Desa Sangowo, Kecamatan Morotai Selatan (Morsel) yang
dikerjakan oleh CV Tiga Putra Gamalama tahun 2018 senilai Rp 500 juta ternyata
bermasalah. Pasalnya, proyek tersebut dibangun di tanah milik masyarakat dan
belum dibebaskan oleh Pemda Morotai. Bahkan, proyek ini dipermasalahkan oleh
warga Sangowo dan sekitarnya karena dibangun diatas bebatuan."Proyek apa
kong bangun di atas batu. Torang mau di kubur di atas batu ya. Ini sesuatu yang
lucu dan baru pertama kali terjadi di Morotai. Proyek nilainya 500 juta lebih ,sama
halnya membuang garam di laut,"cetus Muhammad Rifai, salah satu warga
Morotai kepada koran ini, Senin (21/10/2019).

Wajar
jika proyek itu ditolak oleh masyarakat karena dari sisi logikanya saja
pekuburan itu biasanya dibangun di tanah yang tak berbatu. Namun, yang terjadi
kini berbeda. "Ini sama saja dengan menyengsarakan masyarakat, termasuk
orang meninggal karena tutup kuburnya bukan menggunakan tanah tapi
batu."cetus Rifai.

Bahkan
saat ini telah dilakukan pemalangan di lokasi pembangunan proyek pekuburan oleh
pihak keluarga pemilik lahan."Ini dibangun diatas lahan masyarakat,
sementara proyeknya milik pemerintah. Persoalannya apakah proyek ini masuk dan
tercatat di bagian asset pemda atau tidak karena tidak mungkin bisa masuk kalau
lahannya bermasalah,"ujarnya. Sementara itu bagian asset Dinas Keuangan ketika
dikonfirmasi juga mengaku bahwa proyek pekuburan umum di Sangowo belum tercatat
sebagai asset Pemda Morotai karena bermasalah dengan lahan. "Belum
tercatat sebagai aset tapi masih masuk catat sebagai konstruksi lanjutan yang
60 persen di kami juga akan tercatat 60 persen karena belum 100 persen selesai
dan ini belanja modal. Anggarannya baru 60 persen direalisasi,"aku Kasie
Asset Diskeu Morotai Ismail Saleh, kepada koran ini, kemarin.

Menurutnya,
berdasarkan data yang tercatat di keuangan proyek itu dikerjakan oleh CV Tiga Putra
Gamalama dengan kontraktornya Faruk Abdullah. Sementara nilai kontraknya R 500
juta lebih."Kontraktornya Faruk Abdullah di 2018 30 persen pencairan, 2019
60 persen pencairan jadi total Rp 389 juta yang sudah
terealisasi,"ungkapnya. Ditanya bagaimana syarat proyek itu bisa tercatat
sebagai asset Pemda Morotai, ia ia berujar harus ada realisasi pembayaran tanah
sehingga bisa masuk di pencatatan asset. "Syaratnya harus ada realisasi
pembayaran tanah. Misalnya pemda sepakat bayar Rp 100 juta tapi baru bayar 50
juta dan Rp 50 juta itu yang kita catat sebagai asset daerah,"terangnya.

Pihak
Dinas Perumahan dan Pemukiman Rakyat (Disperkim) juga mengaku, belum bisa
mencairkan anggaran untuk proyek pembangunan pekuburran karena bermasalah
dengan lahan. "Kita baru bayar 60 persen karena masalah tanah belum
dibebaskan jadi jangan sampai bermasalah kita tahan pencairan dulu,"ungkap
salah satu bendahara di disperkim. (red)

Artikel ini sudah diterbitkan di SKH Posko Malut, edisi Selasa, 22 Oktober 2019, dengan judul’ Proyek Pekuburan Sangowo Rp 500 Juta Bermasalah’

Komentar

Loading...