poskomalut, Ratusan petani kelapa dari Front Petani Kelapa Halmahera Utara kembali turun ke jalan.
Mereka memalang akses jalan trans Galela – Tobelo di Desa Pune, Kecamatan Galela, Senin (3/8/2026).
Aksi pemboikotan dilakukan untuk menghentikan aktivitas sejumlah truk milik PT Nico yang mengangkut buah kelapa.
Koordinator Lapangan, Ramji menyebut pemalangan jalan akan terus dilakukan hingga tuntutan petani dipenuhi.
“Ini bentuk kekecewaan dan protes keras terhadap Pemda. Harga buah kelapa sudah membebani petani di Halmahera Utara, khususnya di Galela,” kata Ramji.
Berdasarkan data di lapangan, harga buah kelapa telah turun lima kali sejak 2025. Saat ini harga hanya Rp1.700 per butir. Padahal sebelumnya sempat berada di kisaran Rp2.500 hingga Rp2.800 per butir.
Melalui aksi ini, Front Petani menuntut pemerintah daerah dan DPRD segera menetapkan harga dasar buah kelapa sebesar Rp3.000 per butir.
“Pemerintah dan DPRD selaku pemegang kekuasaan tidak boleh diam melihat kondisi petani,” tegasnya.
Ramji juga menduga adanya keterlibatan sejumlah anggota DPRD Halut dalam bisnis perdagangan buah kelapa.
“Kondisi ini berpotensi menimbulkan konflik kepentingan dan menghilangkan kepercayaan publik terhadap lembaga legislatif,” ungkapnya.
Selain harga, massa juga mendesak PT Nico bersama Pemda Halut segera memperbaiki jalan-jalan tani di sejumlah desa di Galela yang rusak akibat lalu lalang kendaraan perusahaan.
Massa meminta mata rantai bisnis yang diduga melibatkan pihak tertentu diputus, agar petani bisa mengakses pasar dengan harga lebih adil.
“Sejak diberlakukannya pemerintah daerah tentang hilirisasi kelapa, harga buah kelapa justru mengalami penurunan secara bertahap,” tuturnya.


Tinggalkan Balasan