Baru-baru ini terjadi peningkatan mendadak kasus Virus Corona (Covid-19). Kasus Covid-19 terus melonjak di Indonesia. Dibeberapa Negara bahkan beberapa daerah di Indonesia sudah masuk status sebagai zona merah.Walaupun peningkatan mendadak ini bukan lagi hal yang menghebohkan akan tetapi cukup membuat kelelahan. Dilansir dari KOMPAS.com bahwa pemerintah melaporkan 47.899 kasus baru dalam satu hari terakhir pada tanggal 13 Juli 2021. Dan juga data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan jumlah yang sembuh dilaporkan pada hari yang sama sebanyak 20.123 kasus. Dengan data statistik yang menunjukan peningkatan grafik.
Direktur Jendral World Health Organization (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan bahwa peningkatan kasus COVID-19 global secara berturut-turut. Selain itu, setelah 10 minggu menurun, kasus kematian juga dilaporkan melonjak lagi. “Varian Delta merobek dunia dengan kecepatan tinggi, mendorong lonjakan baru pada kasus dan kematian” ujarnya dalam konferensi pers pada Senin (12/7/2021).
Namun, musuh terbesar saat ini bukan hanya pada virus saja, melainkan ketakutan, rumor, dan misinformasi. Seringkali, misinformasi ini justru yang lebih berbahaya dibandingkan virus itu sendiri. Informasi yang salah (kurang tepat) akan menimbulkan kepanikan berlebihan di masyarakat yang justru akan membuat respons terhadap virus tidak optimal dan tidak tepat (efektif).
Selama beberapa minggu terakhir, banyak berita-berita hoax bermunculan di Indonesia. Berita yang tersebar macam-macam mulai dari penyebaran Covid-19 yang dianggap tidak ada, pelayanan pos, interaksi dengan warga keturunan china Indonesia, pernyataan dari dr.Lois Owen (yang sedang hangat diperbincangkan). Lalu, tentang pencegahan dan prosedur, banyak berita yang beredar juga tentang penggunaan obat-obatan baik medis maupun tradisional.
Berita-beritas eperti ini tentu akan membuat Pro dan Kontra dan akan semakin memperkeruh kondisi sekarang ini. Berbagai Literatur ilmiah menjelaskan tentang bagaimana metode penularan dari COVID-19 adalah melalui Droplet dari individu yang terinfeksi. Selain itu juga, individu yang memiliki resiko tertinggi untuk tertular dalah mereka yang berada dalam kondisi defesiensi imun atau memiliki kekebalan tubuh yang rendah, seperti masyarakat lanjut usia, penderita kanker, atau penyakit kronis lainnya. Disamping itu, opsi pencegahan terbaik sesuai dengan arahan dari WHO dan harus tetap dilakukan adalah mencuci tangan, menggunakan masker, serta social distancing.
Pemerintah juga sudah mengambil langkah tegas untuk melawan misinformasi yang terjadi, dengan beberapa program edukasi public mengenai COVID-19melalui platform, telepon genggam dan media social untuk menyampaikan pesan/informasi berkala kepada masyarakat. Pemerintah juga rutin membagikan informasi melalui laman resmi kominfo.go.id.
Namun, selain upaya tersebut WHO juga menghimbau kepada seluruh pemerintah di dunia untuk bekerjasama dan bersikapTransparancy dalam memberikan informasi kepada masyarakat dan lembaga-lembaga terkait, guna membangun kembali Public Trust karena, hal ini sebenarnya menjadi hal paling penting untuk tidak menutup-nutupi informasi dengan tetap mengkomunikasikan apa yang diketahui maupun yang tidak diketahui mengenai COVID-19 yang sebenar-benarnya. Tentunya sekarang semakin rumit karena banyak isu yang semakin menjalar kemana-mana.
Dan point pentingnya adalah untuk disadari, bahwa upaya preventif dan tatalaksana COVID-19 bukan hanya tanggungjawab pemerintah saja. Tetapi, menjadi tanggungjawab kita semua serta diperlukan whole of government approach yakni koordinasi antar elemen pemerintah. Dan juga sebagai masyarakat yang baik tentunya harus baik juga dalam memilih dan memilah setiap informasi yang dibaca, serta mencari fakta yang sebenarnya dari informasi tersebut.
Mengutip Tedros dalam pidatonya 1 Tahun yang lalu, “”ini adalah waktu untuk fakta, bukan ketakutan. Ini adalah waktu untuk rasionalitas, bukan berita palsu. Ini adalah waktu untuk solidaritas, bukan untuk stigma”.
Di tahun ini doa dan harapan tentunya untuk keselamatan semua manusia, dan semoga tidak adalagi COVID-19 JILID III. “Terima kasih”.Sehat selalu untuk kita semua, jangan lupa untuk tetap patuhi protocol kesehatan dan pastinya tetap check imunitas tubuh kalian. (***)



Tinggalkan Balasan